<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Situs Kota Tua Dot Com</title>
	<atom:link href="http://situskotatua.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://situskotatua.com</link>
	<description>Informasi Seputar Situs Kota Tua Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Jun 2010 05:06:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Sejarah Kota Tua</title>
		<link>http://situskotatua.com/2010/06/01/sejarah-kota-tua/</link>
		<comments>http://situskotatua.com/2010/06/01/sejarah-kota-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 04:58:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[situs kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[wisata kota tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://situskotatua.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Kota Tua Pelabuhan Sunda Kelapa diserang oleh tentara Demak pada 1526, yang dipimpin oleh Fatahillah, dan setelah berhasil direbut, namanyapun diganti menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527, kota tersebut luasnya tidak lebih dari 15 hektar dengan pola tata kota tradisional Indonesia. Kota Jayakarta hancur diserang VOC Belanda pada tahun 1619 yang dipimpin oleh Jan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!--CusAds1--><div><strong>Sejarah Kota Tua</strong></div>
<div>Pelabuhan Sunda Kelapa diserang oleh tentara Demak pada 1526, yang dipimpin oleh <strong>Fatahillah</strong>, dan setelah berhasil direbut, namanyapun diganti menjadi <strong>Jayakarta</strong> pada 22 Juni 1527, kota tersebut luasnya tidak lebih dari 15 hektar dengan pola tata kota tradisional Indonesia. Kota Jayakarta hancur diserang VOC Belanda pada tahun 1619 yang dipimpin oleh <strong>Jan Pieterzoon Coen</strong>.</div>
<div>Pada tahun 1620 diatas reruntuhan kota Jayakarta, Belanda membangun kota baru yang diberi nama <strong>Batavia</strong><strong>Batavieren</strong> suku bangsa Eropa yang menjadi nenek moyang orang-orang Belanda, disebelah timur sungai Ciliwung yang pusat kotanya kini masih terlihat disekitar Taman Fatahillah sekarang. sebagai penghormatan atas kaum.</div>
<div> </div>
<div>Orang-orang pribumi Batavia dijuluki <strong>Batavianen </strong>(orang Batavia) yang kemudian dikenal sebagai orang Betawi. Orang Betawi sebenarnya adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Kota Batavia pada tahun 1635 diperluas ke sebelah barat sungai Ciliwung diatas bekas kota Jayakarta yang hancur. Kota ini dirancang lengkap dengan sistem pertahannya berupa tembok dan parit sekeliling kota. Tata ruang kota dibagi kedalam blok-blok yang dipisahkan oleh kanal. Pembangunan kota Batavia selesai pada tahun 1650. Setelah pendudukan Jepang pada tahun 1942, nama Batavia diganti menjadi <strong>&#8220;Jakarta&#8221;.</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div>
<div><strong>Wilayah Kota Tua</strong><br />
Lingkungan yang termasuk wilayah ini meliputi Sunda Kelapa, Pasar Ikan, Luar Batang, Kali Besar, Taman Fatahillah dan Glodok. Luas wilayah Kota Tua Daerah sekitar sekitar 139 hektar. Kawasan ini merupakan awal dari masa depan perkembangan kota Jakarta sejak abad 14. Selama tahun 1527 ini adalah Kota pelabuhan yang direbut oleh Fatahillah dan berganti nama menjadi Jayakarta. Lebih lanjut lagi di tahun 1620 kota ini dikuasai oleh VOC Belanda yang diubah menjadi Batavia. Pada abad ke 18 , kota ini telah berkembang ke sisi selatan sampai ke daerah di taman Fatahillah dan Glodok sekarang. Sebagai kota tua, Jakarta telah meninggalkan warisan dari sejarah masa lalu mengambil bentuk bangunan dengan arsitektur Eropa dan Cina dari abad 17 sampai awal abad ke-20. Kota tua ini telah dipelihara sebagai kawasan restorasi.</div>
</div>

<!-- Quick Adsense WordPress Plugin: http://techmilieu.com/quick-adsense -->
<div style="float:left;margin:10px 10px 10px 0;">
<script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-1802728246387567";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 15;
google_ad_format = "468x15_0ads_al_s";
google_ad_channel = "";
google_color_border = "FFFFFF";
google_color_bg = "FFFFFF";
google_color_link = "046380";
google_color_url = "666666";
google_color_text = "666666";
google_language = "en"
//--></script>
<script type="text/javascript"
  src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script>
</div>

<div style="font-size:0px;height:0px;line-height:0px;margin:0;padding:0;clear:both"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://situskotatua.com/2010/06/01/sejarah-kota-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tempat Yang Bisa Dikunjungi</title>
		<link>http://situskotatua.com/2010/06/01/tempat-yang-bisa-dikunjungi/</link>
		<comments>http://situskotatua.com/2010/06/01/tempat-yang-bisa-dikunjungi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 04:57:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[lokasi kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[situs kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[wisata kota tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://situskotatua.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Tempat-tempat Yang Bisa Dikunjungi   Museum Sejarah Jakarta Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi. Gedung ini dulu adalah Stadhuis atau Balai Kota, yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<!-- Quick Adsense WordPress Plugin: http://techmilieu.com/quick-adsense -->
<div style="float:none;margin:0px;">
<script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-1802728246387567";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
google_ad_format = "468x60_as";
google_ad_type = "text_image";
google_color_border = "FFFFFF";
google_color_bg = "FFFFFF";
google_color_link = "046380";
google_color_url = "666666";
google_color_text = "666666";
google_language = "en"
//--></script>
<script type="text/javascript"
  src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script>
</div>
<div><strong>Tempat-tempat Yang Bisa Dikunjungi</strong></div>
<div>
<div> </div>
<div><strong>Museum Sejarah Jakarta</strong></div>
<div>Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi.</div>
<div>Gedung ini dulu adalah Stadhuis atau Balai Kota, yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jenderal Johan Van Hoorn. Bangunan balaikota itu serupa dengan Istana Dam di Amsterdam , terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.</div>
<div> </div>
<div>
<div>Pada tanggal 30 Maret 1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.</div>
<div>Arsitektur bangunannya bergaya abad ke-17 bergaya Barok klasik dengan tiga lantai dengan cat kuning tanah, kusen pintu dan jendela dari kayu jati berwarna hijau tua. Bagian atap utama memiliki penunjuk arah mata angin.</div>
<div>Museum ini memiliki luas lebih dari 13.000 meter persegi. Pekarangan dengan susunan konblok, dan sebuah kolam dihiasi beberapa pohon tua.</div>
<div> </div>
<div>Objek-objek yang dapat ditemui di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19, yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Cina, dan Indonesia. Juga ada keramik, gerabah , dan batu prasasti. Koleksi-koleksi ini terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin.</div>
<div> </div>
<div>
<div>Terdapat juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Bahkan kini juga diletakkan patung Dewa Hermes (menurut mitologi Yunani, merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang) yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si jagur yang dianggap mempunyai kekuatan magis. Selain itu, di Museum Fatahillah juga terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulu sempat digunakan pada zaman penjajahan Belanda.</div>
<div> </div>
<div><strong>Museum Bank Indonesia</strong></div>
<div>Gedung Bank Indonesia di daerah Jakarta Kota yang dipilih dan ditetapkan sebagai Gedung Museum Bank Indonesia merupakan sebuah bangunan monumental yang sarat dengan nilai sejarah dan keindahan arsitekturalnya. Sebagai aset kekayaan sejarah bagi kota Jakarta, bangunan ini telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta sebagai bangunan cagar budaya sesuai dengan UU Cagar Budaya No. 5/1992. Oleh sebab itu, merupakan suatu langkah tepat apabila gedung ini dilestarikan dan dijadikan sebuah museum yang dikelola secara profesional, sehingga dapat menampilkan citra Bank Indonesia yang sangat peduli pada sejarah, budaya, dan pendidikan bagi masyarakat, serta berpartisipasi dalam revitalisasi bangunan bersejarah di kawasan Jakarta Kota.</div>
<div> </div>
<div><strong>Gereja Katedral Jakarta<br />
</strong><strong>Gereja Katedral Jakarta</strong> (nama resmi: <strong>Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga</strong>, <em>De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming</em>) adalah sebuah gereja di Jakarta. Gedung gereja ini diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu. Gereja yang sekarang ini dirancang dan dimulai oleh PastorAntonius Dijkmans dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Provicaris Carolus Wenneker. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit ketika Dijkmans tidak bisa melanjutkannya, dan kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta. Katedral yang kita kenal sekarang sesungguhnya bukanlah gedung gereja yang asli di tempat itu, karena Katedral yang asli diresmikan pada Februari 1810, namun pada 27 Juli 1826 gedung Gereja itu terbakar bersama 180 rumah penduduk di sekitarnya. Lalu pada tanggal 31 Mei 1890 dalam cuaca yang cerah, Gereja itu pun sempat roboh.</div>
<div><strong> </strong></div>
<div><strong>Masjid Angke</strong></div>
<div>Masjid Angke Masjid Angke terletak di Jakarta Barat dan mudah dicapai oleh minibus dari Museum Fatahillah Kota atau dari stasiun beos kota. Ia adalah satu-satunya masjid di Jakarta yang masih bertahan. Bangunan masjid ini ada dua lantai, yang bercirikan khas arsitektur Jawa. Mesjid Angke yang sekarang terkenal dengan nama Masjid Al-Anwar sangat erat kaitannya dengan orang-orang Cina yang ada di Batavia (sekarang Jakarta).</div>
<div><strong> </strong></div>
<div><strong>Masjid Luar Batang</strong></div>
<div>Masjid Luar Batang Lokasinya berada di Jalan Luar Batang I, Kampung Luar Batang, Jakarta Utara. Banyak orang Jawa yang tinggal disini, makanya dalam peta yang dibuat Van Der Parra tahun 1780 lokasi disebut Javasche Kwartier, namun setelah itu orang lebih mengenalnya Luar Batang. Usut punya usut, orang pada saat itu jika ke lokasi ini berarti ke luar kota dan harus melewati tanda batas dalam bentuk batang, tidak dijelaskan batang apa. Maka kemudian dikenalkan dengan sebutan Luar Batang hingga kini.</div>
<div><strong> </strong></div>
<div><strong>Gereja Sion</strong></div>
<div>
<div>Gereja ini terletak tak jauh dari Stasiun Kereta Api Jakarta, tepatnya di Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Barat dibangun tahun 1693. Gereja Portugis ini dibangun pada tahun 1693, disebut De Nieuwe Potugeesche Buitenkerk (The New Gereja Portugis di luar benteng). Gereja ini resmi dibuka pada tanggal 23 Oktober 1695 dan didanai secara bersama oleh Portugis dan Pemerintah Belanda VOC. Gereja ini yang kemudian dikenal sebagai Gereja Sion, Khotbah pertama disampaikan oleh seorang imam bernama Theodorus Zas dan dihadiri oleh Gubernur Jenderal Van Outhoorn. Gereja Sion adalah yang khas Portugis dengan kubah jendela, dan grand mimbar, kursi yang megah. Yang diukir indah lembar mebel adorn gereja yang dibuat oleh pengrajin dari Formosa (Taiwan).</div>
<div> </div>
<div>Gereja ini merupakan salah satu gereja yang tertua di daerah jakarta. Gereja tertua di Jakarta ini dibangun pada tahun 1693 dengan arsitek Ewout Verhagen. Dari luar, sepintas tak terlihat sesuatu yang istimewa dari Gereja Sion. Namun, jendela lengkung antik dengan tinggi lebih kurang tiga meter dan pintu- pintu gerbang gereja dengan tiang antik, yang menopang segitiga (fronton) gaya Yunani, membuat gereja ini istimewa.</div>
<p>Bentuk bangunan yang segiempat memiliki ruang tambahan yang juga berbentuk segiempat tempat dewan gereja berkumpul (konsistori). Di pintu barat gereja terdapat 11 makam yang nisannya dipasang horizontal.</p>
<p><strong>Toko Merah</strong><br />
Di Jalan Kali Besar Barat Jakarta Barat, di masa VOC merupakan pusat kota Batavia, terdapat sebuah gedung yang hampir seluruh bagian depannya berwarna merah. <strong>Toko Merah</strong> nama gedung itu, kini masih tetap berdiri kokoh meskipun telah berusia tiga abad. Sejumlah gubernur jenderal VOC pernah mendiami gedung ini, yang kala itu terletak di tengah kota Batavia berbenteng.</p>
</div>
<p>Gustaf Baron van Imhoff membangun gedung berlantai dua itu pada 1730. Gedung itu telah menyaksikan berbagai peristiwa penting, yang dialami kota Batavia. Setidak-tidaknya di depan gedung yang mengalir sungai Groote Rivier ( Kali Besar ) itu perna terjadi suatu kerusuhan besar ketika terjadi pembantaian terhadap orang-orang Tionghoa.</p>
</div>
</div>
</div>

<div style="font-size:0px;height:0px;line-height:0px;margin:0;padding:0;clear:both"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://situskotatua.com/2010/06/01/tempat-yang-bisa-dikunjungi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peta Kota Tua</title>
		<link>http://situskotatua.com/2010/06/01/peta-kota-tua/</link>
		<comments>http://situskotatua.com/2010/06/01/peta-kota-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 04:55:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[peta kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[situs kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[wisata kota tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://situskotatua.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://situskotatua.com/2010/06/01/peta-kota-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jakarta 100 Tahun Lalu</title>
		<link>http://situskotatua.com/2010/01/18/jakarta-100-tahun-lalu/</link>
		<comments>http://situskotatua.com/2010/01/18/jakarta-100-tahun-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 07:44:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[wisata kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[wisata sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://situskotatua.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://situskotatua.com/2010/01/18/jakarta-100-tahun-lalu/"><img align="left" hspace="5" width="150" src="http://ehbuku.googlepages.com/1910-st-tandjong-priok.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="1910-st-tandjong-priok" title="" /></a>Dari Singapura ke Batavia membutuhkan waktu sekitar 40 jam perjalanan. Lautnya relatif tenang, kecuali pada masa perubahan musim; saat itu laut menjadi sangat bergelombang. Setelah meninggalkan Singapura, kapal uap berlayar menyusuri kepulauan Rhio, pantainya sangat indah dengan titik-titik pulau-pulau kecil di sekitarnya. Kapal melampaui ekuator pada malam hari, di hari kedua melewati selat Banka, sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<!-- Quick Adsense WordPress Plugin: http://techmilieu.com/quick-adsense -->
<div style="float:none;margin:0px;">
<script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-1802728246387567";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
google_ad_format = "468x60_as";
google_ad_type = "text_image";
google_color_border = "FFFFFF";
google_color_bg = "FFFFFF";
google_color_link = "046380";
google_color_url = "666666";
google_color_text = "666666";
google_language = "en"
//--></script>
<script type="text/javascript"
  src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script>
</div>
<p>Dari Singapura ke <em>Batavia</em> membutuhkan waktu sekitar 40 jam perjalanan. Lautnya relatif tenang, kecuali pada masa perubahan musim; saat itu laut menjadi sangat bergelombang.</p>
<p>Setelah meninggalkan Singapura, kapal uap berlayar menyusuri kepulauan  <em>Rhio</em>, pantainya sangat indah dengan titik-titik pulau-pulau kecil di sekitarnya. Kapal melampaui ekuator pada malam hari, di hari kedua melewati selat <em>Banka</em>, sebuah selat di antara pulau Banka dan pulau Sumatra. Kedua pantainya dijejeri pepohonan kelapa. Kapal berada begitu dekat dengan kedua pantai itu sehingga bendera kecil di atas menara di pulau Banka dapat terlihat dengan jelas.</p>
<p>Tapi semua ini tiba-tiba berubah. Sekonyong-konyong hujan turun, dan guyuran airnya yang tajam memukuli papan dek bagai panah-panah perak. Awan tebal mengembang di atas pantai, dan permukaan air yang semula tenang mulai bergerak dengan riak-riaknya. Warnanya yang hijau pirus berubah menjadi abu-abu keperakan. Keseluruhan atmosfirnya menyegarkan, tapi lebih segar lagi ketika semua ini berlalu.</p>
<p>Sebagaimana ia datang, begitu juga perginya. Hujan tiba-tiba saja berhenti. Tak lama kemudian diikuti terbenamnya matahari, dengan warna-warninya yang indah berpantulan di permukaan air dan pulau. Cepatnya perubahan memang merupakan karakteristik senja tropis.</p>
<p>Pulau Banka, bersama pulau <em>Billiton</em> di sisi timurnya, dikenal dengan produksi timahnya. Para penambangnya orang-orang Cina. Populasinya sekitar 115.000, kebanyakan orang Malay asal Sumatra.</p>
<p>Di pagi hari ketiga kapal uap memasuki <em>Tandjong Priok</em>. Sebagai pintu  gerbang <em>“Paradise of the East”</em> ia agak kurang atraktif, tapi para pengunjung cukup puas dengan jaminan bahwa ini adalah ambang pintu yang tidak dipoles, menuju istana kecantikan alami yang amat luas.</p>
<p><strong> Tandjong Priok.</strong> Pelabuhan kota Batavia. Di sini, di atas dermaga, begitu kapal merapat, para wisatawan disambut para pesuruh dari berbagai hotel. Kepada mereka barang-barang diserahkan (30 sen per parcel, biasanya akan dicantumkan dalam tagihan hotel). Juga ada porter resmi, yang akan membawa bagasi ke stasiun kereta api dengan biaya 10 sen per buah.</p>
<p>Pembangunan Tandjong Priok dilakukan antara 1877-1886, terdiri dari Pelabuhan Luar dan Pelabuhan Dalam. Pelabuhan Luar dengan kedalaman 26 kaki dilindungi oleh dua tanggul panjang masing-masing sepanjang 6.000 kaki. Pelabuhan Dalam panjangnya 3.500 kaki dan lebar 565 kaki, dengan dua dermaga, salah satunya memiliki tempat pengisian batubara. Biaya pembangunannya sebesar fl.2.200.000. Kini sedang diupayakan agar segera dilakukan perluasan.</p>
<p><a href="http://ehbuku.googlepages.com/1910-st-tandjong-priok.jpg"><img src="http://ehbuku.googlepages.com/1910-st-tandjong-priok.jpg" border="0" alt="1910-st-tandjong-priok" width="260" height="178" align="left" /></a><strong>Stasiun Kereta Api</strong>. Disebut Stasiun Tandjong Priok, berdampingan dengan kantor pabean. Di halamannya terdapat tempat penukaran uang (tempat menukar uang asing dengan uang yang berlaku di kepulauan) dan kantor pos (memiliki hubungan komunikasi telepon dengan hotel-hotel di <em>Weltevreden</em>). Dengan kereta api jarak ke Batavia sekitar 10 km, atau 16-17 menit, berangkat setiap 30 menit, kecuali hari Minggu dan hari-hari libur, saat itu kereta api tidak bekerja.<span id="more-107"></span></p>
<p>Ada tiga jalur rel kereta yang mengarah ke tiga kawasan kota yang berbeda. Wisatawan dianjurkan untuk memilih kereta yang sesuai dengan tujuan mereka.<br />
Yang ingin ke kawasan perhotelan sebaiknya mengambil kereta <em>SS Line</em> hingga ke <em>Kemajoran</em>, atau <em>NIS Line</em> untuk ke <em>Noordwijk</em> atau <em>Koningsplein</em>, —ini adalah tiga stasiun yang berada di  Weltevreden.<br />
Jika ingin ke Batavia yang asli, naik kereta NIS Line ke Batavia N, atau kereta SS Line ke Batavia Z. Perlu diingat bahwa ada kereta SS Line yang tidak berhenti di Batavia Z, tapi langsung ke Kemajoran.</p>
<p><strong>Tarif kelas 1 dan kelas 2</strong> :<br />
ke Batavia SS dan Batavia NIS  50 sen, 20 sen<br />
ke Weltevreden SS (Kemajoran) 40 sen, 25 sen<br />
ke Weltevreden  NIS (Nordwijk) 50 sen, 30 sen<br />
ke Weltevreden NIS (Koningsplein) 60 sen, 35  sen<br />
bagasi 10 sen per 1/10 m3</p>
<p><strong>Kereta dan otomobil</strong>. <em>dos-a-dos</em> (disingkat menjadi  <em>sado</em>), adalah kereta pribumi di mana penumpang dan kusir duduk saling  membelakangi, 15 sen per 1/4 jam.<br />
Hotel-hotel memiliki kereta eropa dan  otomobil yang akan menunggu di stasiun jika sebelumnya diberitahu melalui  telepon.</p>
<p><strong>Pemandu wisata</strong>. Di semua hotel kelas satu disediakan pemandu wisata yang berbahasa Inggris, fl.2,5 hingga fL.3 per hari di luar makanan dan biaya perjalanan. Tapi wisatawan biasa tidak memerlukan pemandu wisata profesional, karena semua orang Belanda bisa berbicara Inggris, Prancis, dan Jerman; sementara orang pribumi berbahasa <em>Malayu</em>, bahasa yang  konstruksinya sederhana dan mudah dipelajari. Para porter hotel  (<em>mandoer</em> dalam bahasa Malayu), umumnya bisa berbahasa Inggris, bisa  dipercaya untuk membeli tiket, mengurus bagasi, dll.</p>
<p><em>Official Tourist Bureau</em> terletak di Rijswijk 17 (di sudut Utara gang Pool), Weltevreden. Buka tiap hari jam 08:00-12:00 dan 17:00-19:00. Di sini para wisatawan bisa memperoleh informasi cuma-cuma mengenai perjalanan di Java atau wilayah lain di Hindia Belanda (biasanya mereka sudah mempunyai <em>itinerary  plan</em>), dan berbagai pamflet berisikan informasi wisata. Buku-buku panduan  juga dijual di sini.</p>
<p><a href="http://ehbuku.googlepages.com/1900-desindes2.jpg"><img src="http://ehbuku.googlepages.com/1900-desindes2.jpg" border="0" alt="1910-desindes" width="240" height="191" align="left" /></a> <strong>Hotel</strong>. Umumnya berada di  Weltevreden.<br />
Hotel des Indes, 130 kamar di Molenvliet West, fl.7 hingga  fl.15<br />
Hotel der Nederlanden, 135 kamar fl.7-12, Grand Hotel de Java, Hotel de  France, ketiganya di Rijswijk.<br />
Central Hotel, di seberang Hotel des Indes di  Molenvliet East<br />
Hotel Tramzicht di Molenvliet East<br />
Hotel-hotel ini umumnya satu lantai, dengan kamar-kamar yang dikelilingi beranda besar, dilengkapi meja kursi dan pot-pot tumbuhan. Bangunannya dikelilingi taman-taman yang ditanami pohon asam, beringin dan pohon-pohon lain yang juga tinggi dan mewah. Dalam satu kalimat, hotel-hotel kelas satu di Java melampaui segala pujian dan dilengkapi dengan semua kenyamanan yang bisa diperoleh oleh wisatawan di negeri tropis.</p>
<p><strong>Restoran</strong>. GW Versteegh di Nordwijk memiliki ruang besar untuk pesta, dan bar di Waterlooplein; Stam &amp; Weijins, Rikers, dan Eesrte Bataviasche Bierhalle —ketiganya di Noordwijk; Eerste Nederlandsche Bierbrouwerij di Goenoeng Sari; Breakfast-hall Hotel der Nederlanden di Rijswijk.</p>
<p><strong>Pension</strong> <em>(boarding house).</em> Wisatawan yang berniat tinggal lama di Batavia lebih memilih penginapan ini daripada hotel yang mahal. Beberapa penginapan mensyaratkan minimal tinggal selama sebulan. Tarifnya bermacam-macam, perlu ditanyakan sebelum melakukan pesanan. Rumah-rumah ini umumnya memiliki satu atau dua pavilyun yang bisa disewa, dan dengan menyewa pembantu (fl.10-15 per bulan), orang bisa memiliki <em>privacy</em> yang lebih  besar dibanding di kamar dalam rumah.</p>
<p><strong>Kota</strong>. Penduduk Batavia pada sensus 1912 berjumlah 162.000 terdiri dari 15.000 orang Eropa, 114.000 pribumi, 30.000 Cina, 1.800 Arab dan 1.200 non-pribumi lainnya.<br />
Kota Batavia terbagi dalam dua distrik: Batavia  dan Weltevreden, dengan kota satelitnya <em>Meester Cornelis</em>.</p>
<p><strong>Batavia</strong> adalah kota lama, didiami oleh orang pribumi, Cina dan Arab. Tampilan umum dan aktivitas di jalan-jalan tidak bisa dibandingkan dengan distrik serupa di kota-kota besar koloni Inggris di Timur. Letaknya di tepi laut, menempati area bekas rawa-rawa, sangat padat penduduknya dan sangat tidak sehat.<br />
Namun di sini adalah pusat bisnis, di sini terdapat bank-bank, perusahaan pelayaran, perusahaan asuransi, dan banyak kantor lain yang dimiliki orang Eropa. Jam kerjanya dari jam 9 hingga jam 16 atau 17.<br />
Di Batavia jalan paling sibuk adalah Kali Besar, di mana terdapat bank dan kantor-kantor perusahaan besar, Pintoe Besar, Pintoe Ketjil, dan Pasar Baroe, di mana berkembang toko-toko Cina.</p>
<p><strong> Weltevreden</strong> adalah kawasan perumahan, di mana tinggal orang Belanda, Inggris, dan orang asing lainnya yang memiliki usaha di kota lama. Jalan-jalannya lebar dan terbuka luas, rumah-rumah terbuka, yang dalam beberapa tahun terakhir sudah dilengkapi dengan instalasi air bersih dan perlengkapan sanitasi lainnya.</p>
<p><a href="http://ehbuku.googlepages.com/1914-laundry.jpg"><img src="http://ehbuku.googlepages.com/1914-laundry.jpg" border="0" alt="1914-laundry" width="240" height="182" align="left" /></a> Wilayah kota di lintasi oleh sungai  <em>Tjiliwoeng</em>, dengan beberapa kanal yang menembus ke berbagai arah kota. Tepi-tepi sungai dilindungi tanggul, dengan tangga di beberapa tempat. Airnya yang berwarna hijau kecoklatan merupakan sumber kegiatan pribumi. Pria, wanita, anak-anak, mandi di situ, mencuci pakaian (kadang juga alat-alat makannya), dan anak-anak bermain dengan gembiranya.</p>
<p>Di pusat Weltevreden ada dua taman —<em>Waterlooplein</em>, dengan monumen  Waterloo, dan <em>Koningsplein</em>.<br />
<em>Noordwijk</em> dan  <em>Rijswijk</em>, dua jalan berdampingan yang terpisah oleh sungai sangatlah menarik, terutama di sore hari, ketika orang-orang berada berkendara di sana.<br />
Selain itu, Molenvliet, Kramat, Tanah Abang, dan Kebon Sirih, merupakan  jalan-jalan terpenting di Weltevreden.</p>
<p>Meski Batavia merupakan ibukota Hindia Belanda, secara komersil ia berada di  urutan ketiga setelah Soerabaja dan Semarang.</p>
<p><a href="http://ehbuku.googlepages.com/1910-concordia2.jpg"><img src="http://ehbuku.googlepages.com/1910-concordia2.jpg" border="0" alt="1910-concordia2" width="260" height="170" align="left" /></a><strong>Club</strong>.<br />
Harmonie Club,  Rijswijk<br />
Concordia Club, Waterlooplein East<br />
Deutsche Turnverein, Gang  Thibault<br />
English Sporting Club, Koningsplein</p>
<p>Harmonie dan Concordia merupakan club terbesar. Harmonie memiliki ruangan yang indah dan perpustakaan yang lumayan. Setiap hari Minggu malam, jam 18-20 ada performansi band. Concordia diutamakan untuk kalangan militer, memiliki taman yang atraktif. Band tampil setiap Rabu mulai jam 18:00 dan Sabtu pagi.</p>
<p><strong>Theatre</strong>.<br />
Theatre Komedi, Schoolweg, di sudut tempat tram berputar. Khusus untuk performansi para prajurit Eropa (Belanda, Inggris, Prancis).<br />
Thalia Theatre, di sudut Molenviliet dan Prinsenlaan, khusus  performansi kaum pribumi.<br />
Wajang Malaju, Molenvliet<br />
Komedi Stambul,  Molenvliet</p>
<p><strong>Tempat-tempat menarik.</strong><br />
<strong>Museum</strong> <em>(Roemah Gadja).</em> Museum dan Perpustakaan <em>Batavia Society of Arts and  Sciences</em>, termasyhur di dunia sains, berada di sisi Barat Koningsplein.  Bangunannya bergaya <em>Grecian</em>. Di depan pintu masuk terdapat patung gajah, hadiah dari raja pertama Siam, sebagai kenangan atas kunjungannya ke Java pada 1871. Di kiri kanan patung gajah terdapat meriam besar, hasil tangkapan dari kesultanan <em>Bandjermasin</em> di Borneo Selatan.</p>
<p>Di dalam, mengelilingi <em>central court</em>, terdapat barang-barang antik Java, karya seni, senjata, perisai, ornamen, kostum, topeng, tekstil, anyaman, alat musik, model-model kapal dan rumah, contoh-contoh kerajinan metal dan semua industri orang Java.</p>
<p><a href="http://ehbuku.googlepages.com/CocodeMer47A.jpg"><img src="http://ehbuku.googlepages.com/CocodeMer47A.jpg" border="0" alt="Coco de Mer 47 A" width="172" height="260" align="left" /></a> Di ruang <em>Treasure</em> terdapat benda-benda emas berupa perisai, helm, mahkota, kotak payung, baki, perlengkapan tembakau dan sirih, badik berhiaskan permata, keris dengan bilah terbaik, dihiasi urat-urat aneh, disamping berbagai kerajinan emas lainnya dari para sultan dan pangeran pribumi.<br />
Di ruang ini juga terdapat <em>coco-de-mer</em> besar (buah kelapa kembar yang legendaris, konon hanya tumbuh di sebuah pulau misterius milik dewa laut), ditopang penyangga dari emas. Juga ada beberapa perhiasan emas dan perak seperti kalung, anting, tusuk konde, cap, piring, dan patung-patung, hasil penggalian di reruntuhan candi-candi di kota-kota Java.</p>
<p>Di ruang lain terdapat barang-barang dari perunggu, perlengkapan prosesi kaum  Buddhist. Di <em>central hall </em>juga terdapat relief dan patung-patung dari reruntuhan  candi Buddhist dan Hindu, yang menampakkan adanya pengaruh Yunani.<br />
Perpustakaannya terdiri dari berbagai publikasi sains dan kesenian dari  seluruh dunia yang diperoleh melalui pertukaran.<br />
Di ruang <em>council </em>juga terdapat kursi-kursi kerajaaan pribumi, lukisan dan suvenir dari para eksplorer dan navigator dunia yang mengunjungi Jawa pada abad 18 dan awal abad 19.</p>
<p>Setiap hari Minggu, Rabu dan Sabtu banyak kaum pribumi yang datang mengunjungi museum. Merupakan kesempatan bagi wisatawan untuk melihat mereka dan anak isterinya dalam kostum-kostum yang menarik.</p>
<p><a href="http://ehbuku.googlepages.com/1288-Batavia-Noord-en-Rijswijk-Welte.jpg"><img src="http://ehbuku.googlepages.com/1288-Batavia-Noord-en-Rijswijk-Welte.jpg" border="0" alt="1288-Batavia-Noord-en-Rijswijk-(Weltevreden)" width="260" height="171" align="left" /></a> <strong>Noordwijk</strong> (Kota Utara), secara  administratif berada di <em>Manggabesar</em>, Batavia, namun popularitasnya membuat orang mengira sebagai bagian wilayah Weltevreden. Noordwijk merupakan bagian yang paling pesat berkembang, paralel dengan Rijswijk yang berada di sisi Selatan. Jalan ini ditanami dengan pohon-pohon asam yang sangat lux dan tinggi besar. Di belakangnya terdapat deretan toko-toko dan kantor orang Eropa, juga beberapa restoran.</p>
<p><a href="http://ehbuku.googlepages.com/rijswijk.jpg"><img src="http://ehbuku.googlepages.com/rijswijk.jpg" border="0" alt="rijswijk" width="260" height="159" align="left" /></a><strong>Rijswijk</strong> (Kota Beras), merupakan jalan paling populer, paralel dengan Noordwijk menyambung dengan jalan Tanah Abang. Di sudut terdapat <em>Harmonie CLub</em>. Sepanjang jalan dipayungi pohon-pohon asam yang indah. Rumah-rumah umumnya dikelilingi taman yang ditanami pohon-pohon rindang. Di tepi kanal terbentang jalur trem uap.<br />
Di  sudut jalan yang berpotongan dengan <em>Gang Pool</em> terletak <em>Official  Tourist Bureau</em>, di sebelah Timurnya berdiri Departemen Keadilan, di  belakang kediaman resmi Gubernur Jenderal. Di jalan ini juga terdapat <em>Hotel der  Nederlander</em>, Departemen Administrasi Kolonial, dan <em>Grand Hotel de Java.</em></p>
<p><a href="http://ehbuku.googlepages.com/1910-weltevreden.jpg"><img src="http://ehbuku.googlepages.com/1910-weltevreden.jpg" border="0" alt="1910-weltevreden" width="189" height="240" align="left" /></a><strong>Koningsplein</strong> (Gambir). Terletak di pusat kota, luasnya sekitar satu km2. Butuh satu jam untuk jalan berkeliling. Bagi para pendatang baru ia merupakan ruang terbuka berbentuk trapesium yang sangat tidak atraktif, hanya ada beberapa pohon dan sedikit rerumputan. Bagi orang Batavia, ketelanjangan ini justru merupakan daya tarik. <em>“Angin segar bertiup tanpa halangan, dan ketidak hadiran tumbuhan menjamin  keringnya udara.”</em> Di sini pada sore hari berkumpul para orang kaya dan orang-orang paling bergaya di Weltevreden, di atas kuda atau di dalam kereta kuda.</p>
<p>Koningsplein dikelilingi oleh deretan <em>residence</em> dan gedung  pemerintahan. Di Utara terdapat <em>Dutch Sporting Club</em> dan residence resmi  Gubernur Jenderal (tempat tinggalnya jika berkunjung sebulan sekali. Sehari-hari  ia tingal di <em>Buitenzorg</em>).</p>
<p>Di Barat ada Museum dan Konsulat Jerman dan  Rusia.<br />
Di Selatan, <em>Royal Natural History Society</em>, dan di sebelahnya  kediaman Resident Batavia. Di antara Koningsplein Selatan dan Utara berdiri  gedung<em> Intercommunal Telephone Co</em>, di belakangnya <em>English Sporting  Club</em>. Di Timur ada sekolah tinggi khusus wanita (dibuka sejak 1882) dan  gereja Protestan <em>Willemskerk</em>. Di seberangnya adalah <em>Stasiun  Koningsplein</em>, di belakang stasiun terdapat arena balap  <em>Batavia-Buitenzorg Race Club</em>, di mana balapan diselenggarakan dua kali setahun.</p>
<p><strong>Hertogspark</strong>. Sebuah taman indah terletak diantyara Koningsplein Timur dan perumahan pejabat milter. Kediaman resmi Commander-in-Chief berada di dalam taman ini.</p>
<p><a href="http://ehbuku.googlepages.com/1910-monumen.jpg"><img src="http://ehbuku.googlepages.com/1910-monumen.jpg" border="0" alt="1910-monumen" width="260" height="171" align="left" /></a><strong>Waterlooplein</strong>. Lapangan  seluas 350 m2, terhubung dengan Koningsplein melalui jalan Willemslaan. Di  tengahnya berdiri tegak kolom <em>“Lion of Waterloo”,</em> didirikan pada 1825  oleh <em>Komisaris Jenderal Du Bus de Gisignies</em>, untuk memperingati Perang  Waterloo.</p>
<p>Di sisi timurnya berdiri megah istana yang dibangun oleh <em>Gubernur Jenderal  Daendels</em> yang tak pernah digunakan sebagai istana. sekarang digunakan oleh beberapa kantor Pemerintahan. Memasuki pintu gerbang utara istana, menaiki tangga di sisi kanan, akan tiba di <em>hall</em> besar tempat pertemuan  para <em>council</em> Hindia Belanda. Koleksi lukisan ukuran <em>life-size</em> para gubernur jenderal di<em>display</em> di sini.</p>
<p>Di depan istana berdiri patung perunggu <em>Gubernur JP Coen</em>, didirikan dalam  rangka peringatan 250 tahun berdirinya Batavia. <em>Concordia Club</em> yang  dikelilingi taman luas berada di sisi selatan istana.</p>
<p>Perumahan pejabat berada di selatan lapangan, di sisi baratnya jalan  <em>Willemsplaan</em> yang dipayungi pohon-pohon tinggi besar. Di ujung jalan  berdiri monumen <em>General Michiel</em> yang tewas pada 1849 dalam ekspedisi di Bali.</p>
<p>Gereja Katolik Roma berada di sisi utara lapangan, mudah dikenali dengan dua menaranya yang merupakan konstruksi terbuka. Eksterior dan interiornya tidak menampilkan karakteristik yang biasa terdapat di gereja katolik di Eropa.</p>
<p>Pertandingan sepakbola dan pegelaran musik band sering diselenggarakan di  lapangan Waterlooplein ini.</p>
<p><a href="http://ehbuku.googlepages.com/Wilhelmina-Park-Oude-Fort.jpg"><img src="http://ehbuku.googlepages.com/Wilhelmina-Park-Oude-Fort.jpg" border="0" alt="Wilhelmina-Park-(Oude-Fort)" width="260" height="172" align="left" /></a> <strong>Wilhelmina Park</strong>. Di akhir jalan Willemslaan terdapat taman kecil yang sangat indah, dinamakan sama dengan nama ratu Belanda kini. Taman ini berada di antara dua cabang sungai Tjiliwoeng dan terbebaskan dari kebisingan kota. Di tengah-tengahnya adalah benteng <em>Prins  Hendrik</em>, yang diputus dari Batavia pada masa Daendels dan kini digunakan sebagai gudang senjata. Hanya pedestrian yang diizinkan melalui taman ini. Sumber: <a href="http://bataviase.wordpress.com" target="_blank">Bataviase</a></p>

<div style="font-size:0px;height:0px;line-height:0px;margin:0;padding:0;clear:both"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://situskotatua.com/2010/01/18/jakarta-100-tahun-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Kota Tua</title>
		<link>http://situskotatua.com/2010/01/18/video-kota-tua/</link>
		<comments>http://situskotatua.com/2010/01/18/video-kota-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 07:34:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[kotatua]]></category>
		<category><![CDATA[situs kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[video kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[wisata kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[wisata sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://situskotatua.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Kota Tua Jakarta Awal sejarah Kota Tua Jakarta dimulai dari sebuah kampung kecil bernama Jayakarta yang terletak di pinggir Kali Ciliwung. Kampung ini kemudian berkembang menjadi sebuah kota dagang besar sejak Jan Pieterszoon Coen, salah seorang petinggi VOC, mendirikan Batavia sekitar abad 17. Salah satu sisa kejayaan Batavia adalah bangunan Museum Sejarah Jakarta atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<!--CusAds1--><p><strong>Sejarah Kota Tua Jakarta</strong></p>
<p>Awal sejarah Kota Tua Jakarta dimulai dari sebuah kampung kecil bernama Jayakarta yang terletak di pinggir Kali Ciliwung. Kampung ini kemudian berkembang menjadi sebuah kota dagang besar sejak Jan Pieterszoon Coen, salah seorang petinggi VOC, mendirikan Batavia sekitar abad 17.</p>
<p>Salah satu sisa kejayaan Batavia adalah bangunan Museum Sejarah Jakarta atau lebih dikenal sebagai Museum Fatahilah. Dalam sejarahnya bangunan ini merupakan gedung Stadhuis atau pusat pemerintahan VOC yang dibangun pada tahun 1707.</p>
<p>Dalam peta lama Batavia, Stadhuis ini terletak di selatan stadhuisplein (lapangan Balaikota). Di timur berbatasan dengan Tijgersgracht atau terusan macan yang kini dikenal sebagai Jalan Lada dan Jalan Pos Kota (depan Gedung Imigrasi, Museum Seni Rupa dan Keramik serta Gedung BNI 46) . Di bagian barat berbatasan dengan De Binnen Nieuw Poortstraat, sekarang Jalan Pintu Besar Utara.</p>
<p>Sebagai pusat pemerintahan kala itu, di sekitar kawasan Stadhuis banyak berdiri gedung-gedung lain, dari mulai tempat ibadah hingga perkantoran. Bangunan-bangunan tua itu sampai sekarang masih berdiri meskipun beberapa diantaranya mulai rapuh digerus zaman.</p>
<p>Untuk menyelamatkan bangunan kuno bernilai historis dan seni arsitektur tinggi yang tersebar di kawasan Kota Tua, Gubernur Ali Sadikin (1966-1977) mencanangkan program Revitalisasi Kota Tua.  Secara umum, kawasan Kota Tua mempunyai luas 864 hektar mencakup wilayah Jakarta Kota sekitarnya, dari seputar Glodok hingga Pelabuhan Sunda Kelapa.</p>
<p>Saat ini tercatat ada 284 bangunan bersejarah di sekitar kawasan Kota Tua. Guna melestarikan sekaligus menumbuhkan semangat kecintaan dan sense of belonging terhadap bangunan bersejarah tersebut, beberapa kelompok anak muda seperti Komunitas Historia Indonesia (KHI), Jakarta Heritage Community (JHC),  Indonesian Federation of Friends of Museums (IFFM) dan Komunitas Jelajah Budaya (KJB) aktif melakukan kegiatan wisata sejarah ke kawasan Kota Tua, minimal sebulan sekali.</p>
<p>Sabtu 9 Mei 2009, misalnya. Mereka menggelar acara wisata sejarah berjalan kaki menelusuri Kota Tua bertajuk &#8216;Jakarta Night Trail&#8217; . Acara ini diikuti kurang lebih 300 peserta dari seluruh Jabotabek yang rata-rata berusia muda. &#8220;Harapan kami melalui kegiatan ini, kesadaran mencintai dan menjaga bangunan bersejarah di Kota Tua makin tumbuh dan dapat dukungan masyarakat,&#8221; kata Asep Kambali, Founder KHI.</p>
<p>Bukan cuma LSM, Pemerintah Kotamadya Jakarta Barat pun tak ingin ketinggalan untuk lebih menghidupkan kembali wisata Kota Tua dengan meresmikan program wisata malam, awal Juni 2009. Pelaksanaan program wisata malam itu, akan melibatkan berbagai unsur, seperti Paguyuban Kota Tua, kelompok usaha kecil dan menengah (UKM) serta masyarakat sekitar.</p>
<p>Kegiatan wisata malam itu rencananya akan berlangsung rutin setiap malam di Kalibesar Barat dan Pintu Besar dekat Kafe Batavia. &#8220;Pada tahap awal, kami akan mendirikan sekitar 15 stan di Kali Besar dan 15 stan mobile di Pintu Besar,&#8221; kata Walikota Jakarta Barat Djoko Ramadhan.  Sumber: Berita8.com (Ans/Btt)</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="344" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/6ivLL74Mc3s&amp;color1=0xb1b1b1&amp;color2=0xcfcfcf&amp;hl=en_US&amp;feature=player_embedded&amp;fs=1" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/6ivLL74Mc3s&amp;color1=0xb1b1b1&amp;color2=0xcfcfcf&amp;hl=en_US&amp;feature=player_embedded&amp;fs=1" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>

<!-- Quick Adsense WordPress Plugin: http://techmilieu.com/quick-adsense -->
<div style="float:left;margin:10px 10px 10px 0;">
<script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-1802728246387567";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 15;
google_ad_format = "468x15_0ads_al_s";
google_ad_channel = "";
google_color_border = "FFFFFF";
google_color_bg = "FFFFFF";
google_color_link = "046380";
google_color_url = "666666";
google_color_text = "666666";
google_language = "en"
//--></script>
<script type="text/javascript"
  src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script>
</div>

<div style="font-size:0px;height:0px;line-height:0px;margin:0;padding:0;clear:both"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://situskotatua.com/2010/01/18/video-kota-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wisata Sepeda Onthel ke Kampung Angke</title>
		<link>http://situskotatua.com/2009/11/23/wisata-sepeda-onthel-ke-kampung-angke/</link>
		<comments>http://situskotatua.com/2009/11/23/wisata-sepeda-onthel-ke-kampung-angke/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 04:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[wisata kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[wisata sepeda onthel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://situskotatua.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Angke merupakan sebuah kampung tua yang berada di wilayah Jakarta Barat. Kata Angke diadopsi dari bahasa Cina dengan dua suku kata yaitu Ang yang artinya darah dan Ke berarti bangkai. peristiwa sejarah yang sangat berhubungan dengan sejarah kota Batavia adalah tragedi tahun 1740 dimana banyak etnis Tionghoa yang dibantai oleh VOC dan konon ribuan orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Angke merupakan sebuah kampung tua yang berada di wilayah Jakarta Barat. Kata Angke diadopsi dari bahasa Cina dengan dua suku kata yaitu Ang yang artinya darah dan Ke berarti bangkai. peristiwa sejarah yang sangat berhubungan dengan sejarah kota Batavia adalah tragedi tahun 1740 dimana banyak etnis Tionghoa yang dibantai oleh VOC dan konon ribuan orang meninggal sia-sia di sepanjang kali angke. Perjalanan kali ini akan dibonceng dengan sepeda onthel yang merupakan salah satu moda transportasi khas kota tua Jakarta. Sambil diceritakan sejarah budaya kampung angke dan sekitarnya, mulai dari kehidupan sosial budaya, sejarah bangunan, toponim dan hal-hal yang menarik untuk kita ketahui dalam konteks Jelajah Kota Toea.</p>
<p><strong>JELAJAH KOTA TOEA : Wisata Sepeda Onthel ke Kampung Angke</strong></p>
<p>Minggu, 6 Desember 2009<br />
Pukul : 07.30 – 13.00 Wib<br />
Museum Bank Mandiri (Jl. Lapangan Stasiun No. 1 Jakarta Kota)<br />
Rute : Museum Bank Mandiri, Kali Besar, Roa Malaka, Bandengan, Pekojan, Angke, Rawa Bebek dan sekitarnya</p>
<p>Fasilitas : Sinopsis, Id Card, Tour Guide, Snack, Air Mineral, Makan Siang, Tiket Kunjungan dan peserta dibonceng sepeda onthel</p>
<p>Biaya partisipasi : Rp. 100.000,- (Seratus Ribu Rupiah)</p>
<p>Pembayaran via transfer ke Bank Mandiri cabang Jakarta Kota<br />
No.Rek. 1150004512697  a/n. Kartum Setiawan</p>
<p>Pendaftaran &amp; Informasi :</p>
<p>KOMUNITAS JELAJAH BUDAYA<br />
Jl. Lapangan Stasiun No. 1 Jakarta<br />
Phone : 0817 9940 173 / 021 99 700 131<br />
Email : kartum_boy@yahoo. com<br />
Milist : jelajahkotatua@ yahoogroups. com<br />
*       Semua peserta telah disiapkan sepeda onthel oleh panitia.<br />
*      Peserta Maksimal 100 orang, jadi buru</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://situskotatua.com/2009/11/23/wisata-sepeda-onthel-ke-kampung-angke/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JELAJAH KOTA TOEA : Molenvliet (1-11-2009)</title>
		<link>http://situskotatua.com/2009/10/21/jelajah-kota-toea-molenvliet-1-11-2009/</link>
		<comments>http://situskotatua.com/2009/10/21/jelajah-kota-toea-molenvliet-1-11-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 06:26:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[jelajah budaya]]></category>
		<category><![CDATA[jelajah kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat museum]]></category>
		<category><![CDATA[situs kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[wisata kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[wisata sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://situskotatua.com/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Molenvliet merupakan kanal yang sengaja dibuat oleh kapiten Phoa Beng Gam pada tahun 1648 untuk menghanyutkan kayu bagi pembuatan kapal dan bahan bangunan di dalam tembok kota Batavia. Lambat laun sungai yang panjangnya sekitar 3 km difungsikan untuk menggerakkan kincir air bagi penggilingan tebu, produksi arak serta pabrik mesiu. Itulah sebabnya sungai ini dinamakan Molenvliet [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Molenvliet merupakan kanal yang sengaja dibuat oleh kapiten Phoa Beng Gam pada tahun 1648 untuk menghanyutkan kayu bagi pembuatan kapal dan bahan bangunan di dalam tembok kota Batavia. Lambat laun sungai yang panjangnya sekitar 3 km difungsikan untuk menggerakkan kincir air bagi penggilingan tebu, produksi arak serta pabrik mesiu. Itulah sebabnya sungai ini dinamakan Molenvliet yang berarti Molen: Penggilingan/ kincir air dan Vliet : Sungai/aliran. Sejak saat itu Molenvliet mempunyai peranan yang penting dalam perkembangan kota Batavia. Hal ini tentu saja terkait dengan pembangunan kota yang bergeser ke selatan, bahkan ketika udara di dalam kota Batavia sudah tidak sehat lagi banyak pejabat tinggi VOC mendirikan vila-vila mewah dengan taman yang luas, seperti gedung Arsip Nasional milik Gubernur Jenderal VOC Reiner de Klerk.  Bahkan tuan tanah dari keluarga Khouw membangun rumah Candranaya di kawasaan ini.  Itulah sekelumit kisah Molenvliet yang penuh kemewahan dan kemegahan, namun juga kesedihan dibalik itu semua…nantikan kisah selanjutnya dalam kegiatan Komunitas Jelajah Budaya :</p>
<p>JELAJAH  KOTA TOEA : Molenvliet</p>
<p>Minggu,  1 November 2009</p>
<p>Pukul : 07.30 &#8211; 11.30 WIB</p>
<p>Starting Point : Museum Mandiri</p>
<p>Jl. Lapangan Stasiun No. 1 Jakarta Kota</p>
<p>Rute : Pintu Besar, Pinangsia, Bioscoop Orion, Glodokplein, Lindeteves, Roemah Obat Tjap Koepoe-Koepoe, Kedubes China, Thalia, Candra Naya, Gedung Arsip Nasional</p>
<p>Partisipasi : Rp. 35.000,- (Tiga Puluh Lima Ribu Rupiah)</p>
<p>Fasilitas : Id Card, Sinopsis, Tour Guide, Tiket kunjungan,Snack pagi &amp; Air Mineral</p>
<p>Pembayaran via Transfer  : Bank Mandiri Cab. Jakarta Kota</p>
<p>No. Rek. 11 5000 451 2697 a.n Kartum Setiawan</p>
<p>Pendaftaran &amp; Informasi</p>
<p>Komunitas Jelajah Budaya</p>
<p>Phone : 0817 99 401 73 / 021 99 700 131</p>
<p>e-mail kartum_boy@yahoo.com</p>
<p>www.jelajahbudaya.blogspot.com</p>
<p>jelajahkotatua@yahoogroups.com</p>
<p>* (One way trip) perjalanan akan dimulai dari Museum Mandiri dan berakhir di gedung Arsip Nasional, setelah itu peserta JKT membubarkan diri. Bila ada yang membawa kendaran pribadi dapat kembali ke Museum Mandiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://situskotatua.com/2009/10/21/jelajah-kota-toea-molenvliet-1-11-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Museum Bank Mandiri (ex-NHM Building)</title>
		<link>http://situskotatua.com/2009/06/08/museum-bank-mandiri-ex-nhm-building/</link>
		<comments>http://situskotatua.com/2009/06/08/museum-bank-mandiri-ex-nhm-building/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 03:13:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mkurniawan2001</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://situskotatua.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorji Batavia adalah Badan operasi sistem tanam paksa yang merupakan reinkarnasi VOC yang telah bangkrut&#8221; (Alwi Shahab: Saudagar Baghdad dari Betawi, hal. 135) Dinasionalisasi pada tahun 1960 menjadi salah satu gedung kantor Bank Koperasi Tani &#38; Nelayan (BKTN) Urusan Ekspor Impor, kemudian bersamaan dengan lahirnya Bank Ekspor Impor Indonesia (BankExim) pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorji Batavia adalah Badan operasi sistem tanam paksa yang merupakan reinkarnasi VOC yang telah bangkrut</em>&#8221; (Alwi Shahab: Saudagar Baghdad dari Betawi, hal. 135)</p>
<p>Dinasionalisasi pada tahun 1960 menjadi salah satu gedung kantor Bank Koperasi Tani &amp; Nelayan (BKTN) Urusan Ekspor Impor, kemudian bersamaan dengan lahirnya Bank Ekspor Impor Indonesia (BankExim) pada 31-12-1968, gedung tsb pun beralih menjadi Kantor Pusat BankExim, hingga akhirnya legal merger BankExim bersama Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD) dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri (1999), maka gedung tsb pun menjadi asset BCB Bank Mandiri yang sekarang dimanfaatkan sebagai Museum Bank Mandiri.</p>
<p>Museum Bank Mandiri terletak di Jl. Lapangan Stasiun No. 1 Jakarta-Kota, Bangunannya menempati area seluas 10.039 m2, Bangunan Nederlandsche Handel</p>
<p>Maatschappij (NHM) dirancang arsitek belanda yaitu J.J.J de Bruyn dan A.P. Smits dan C. van de Linde, Gedung ini mulai dibangun tahun 1929 tanggal 14 Januari 1933 Oleh C.J Karel Van Aalst, Presiden NHM ke-10. Gedung ex-NHM ini tampak kokoh dan megah dengan arsitektur Niew Zakelijk atau Art Deco Klasik, Museum Bank Mandiri menyimpan banyak koleksi berbagai macam jenis blanko dan barang-barang yang ada kaitannya dengan Bank tempo doeloe.(MK)<a href="http://travelogue.multiply.com/journal/item/4/Museum_Bank_Mandiri_ex-NHM_Building"> Sumber</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://situskotatua.com/2009/06/08/museum-bank-mandiri-ex-nhm-building/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Museum Day, Momentum Kebangkitan Museum</title>
		<link>http://situskotatua.com/2009/05/20/museum-day-momentum-kebangkitan-museum/</link>
		<comments>http://situskotatua.com/2009/05/20/museum-day-momentum-kebangkitan-museum/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 May 2009 20:45:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[museum day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://situskotatua.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[MOMENTUM Hari Museum Internasional kemarin merupakan momentum kebangkitan kembali museum-museum di kawasan kota tua. Pendekatan museum agar lebih dekat dengan warga sekitar tampaknya cukup berhasil. Bukan hanya dilihat dari partisipasi warga tapi juga dari pengetahuan warga tentang isi museum. Setidaknya khalayak yang berkumpul di Taman Fatahillah jadi tahu bahwa meriam si Jagur semula berada di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MOMENTUM </strong>Hari Museum Internasional kemarin merupakan momentum kebangkitan kembali museum-museum di kawasan kota tua. Pendekatan museum agar lebih dekat dengan warga sekitar tampaknya cukup berhasil. Bukan hanya dilihat dari partisipasi warga tapi juga dari pengetahuan warga tentang isi museum. Setidaknya khalayak yang berkumpul di Taman Fatahillah jadi tahu bahwa meriam si Jagur semula berada di halaman taman di sekitar lokasi di mana kini ada bekas galian trem.</p>
<p>Melalui kuis yang dibikin oleh panitia &#8220;Museum Day&#8221;, warga juga jadi paham apa nama tempat yang digunakan untuk menyimpan uang yang letaknya di bawah gedung Museum Bank Mandiri. Namanya, brandkast atau kemudian menjadi brankas.</p>
<p>Meskipun diadakan dengan sangat sederhana, dan buat banyak orang terasa kurang greget, bagaimanapun menjadi peringatan hari museum yang paling mengesankan. Dengan semangat dan kekompakan dari Forum Komunikasi Antar Museum di Kota Tua (Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, Museum Bahari, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Balai Konservasi, dan UPT Kota Tua) dibantu oleh ACP Com yang sudah berpengalaman membantu museum dan kota tua, acara yang dipersiapkan dalam waktu singkat pun menjadi begitu hidup sekaligus menghidupkan kawasan itu yang di hari Senin lebih sepi dibandingkan hari-hari lain.</p>
<p>Jika pada setiap hari Senin museum tutup, maka kemarin museum buka hingga malam hari dan tanpa dipungut bayaran. Pin-pin bertuliskan Museum Day pun dibagikan kepada khalayak. Kepala Dinas Pariwisata dan Permuseuman DKI Arie Budhiman menyatakan, rasa terima kasih atas inisiatif forum komunitas yang menggelar acara tersebut meski dalam keterbatasan.<br />
 <br />
&#8220;Saya sangat meng-appreciate teman-teman di forum komunikasi yang sudah menggelar peringatan Hari Museum untuk pertama kali. Ke depan tentu akan kami bikin yang lebih terprogram, kami bikin lebih panjang dan puncak acara pada 18 Mei. Kami bikin pekan museum dan kerja sama dengan berbagai pihak,&#8221; paparnya. Arie juga menegaskan, bunker akan dibuka untuk umum setiap hari Senin. Ini sebagai pengganti museum yang tutup di hari itu.</p>
<p>Mantan Kepala Biro Humas dan Protokol DKI itu tak lupa mengingatkan, keberadaan bunker di depan Museum Sejarah Jakarta (MSJ) merupakan bagian dari atraksi museum dan atraksi wisata di kota tua. &#8220;Apalagi kalau melihat keingintahuan masyarakat yang begitu besar terhadap sejarah bunker. Juga untuk menjawab keingintahuan mereka terhadap bunker ini,&#8221; tandasnya.</p>
<p>Hari Museum tahun ini seperti menjadi titik awal pembenahan museum dalam rangka mempersiapkan Tahun Kunjungan Museum 2010. Secara perlahan namun pasti museum secara keseluruhan akan dibenahi. Sebut saja dari sisi pelayanan, informasi, manajemen museum, dan tata pamer. Karena apa, karena dalam rangka menghidupkan kawasan kota tua dan menjadikannya sebagai tujuan wisata maka tak pelak kondisi museum harus ikut direvitalisasi.</p>
<p>Selain itu jaminan atas keamanan, kebersihan, kenyamanan, ketertiban juga mutlak disegerakan. Mengutip Arie, harus ada komitmen kolektif demi tercapainya jaminan tersebut. Artinya, Pemprov DKI tak bisa sendirian mengupayakan hal itu, &#8220;Stakeholder, pihak swasta dan juga pemerintah pusat tak bisa hanya diam. Perlu ada dukungan dari mereka,&#8221; tambah Arie.</p>
<p>Camat Tamansari, Rustam Effendi, menimpali, persoalan di kota tua bukan hanya di museum tapi juga di sekitar museum yaitu gedung-gedung tua yang tak terawat. &#8220;Kalau bangunan di sekitar museum malah dibiarkan dalam kondisi menyeramkan, buat shooting film horor, kan susah juga. Artinya harus ada kemauan dari si pemilik bangunan untuk merawat gedung mereka,&#8221; lanjutnya, supaya terlihat lebih bersih dan nyaman, juga aman karena pemulung yang dibiarkan tinggal di bangunan kumuh itu juga akan hilang.</p>
<p>Semoga saja dengan momentum Hari Museum Internasional di mana forum komunikasi disebut Arie Budhiman sebagai &#8220;inisiator&#8221; Hari Museum di Jakarta membawa angin segar bagi pembenahan museum dan kota tua secara umum. Harapan lain tentunya adalah agar stakeholder, swasta, dan pemerintah pusat tak menutup mata dan telinga tentang keberadaan kawasan berpotensi ini. [<a href="http://www.kompas.com/read/xml/2009/05/19/14522214/Menghidupkan.Museum.Lewat.Museum.Day" target="_blank">source</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://situskotatua.com/2009/05/20/museum-day-momentum-kebangkitan-museum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Museum Day&#8221; 18 Mei, Bunker di MSJ Dibuka</title>
		<link>http://situskotatua.com/2009/05/20/museum-day-18-mei-bunker-di-msj-dibuka/</link>
		<comments>http://situskotatua.com/2009/05/20/museum-day-18-mei-bunker-di-msj-dibuka/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 May 2009 20:34:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[museum day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://situskotatua.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[SEKITAR dua bulan lalu International Council of Museums (ICOM) mengeluarkan rilis perihal International Museum Day 2009 (IMD 2009) yang jatuh pada 18 Mei dengan tema Museums and Tourism.  Alissandra Cummins,  Presiden dari International Council of Museums (ICOM) bersama Carla Bossi-Comelli, Presiden dari World Federation of Friends of Museums (WFFM/FMAM) mengeluarkan pernyataan terkait hari besar museum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEKITAR </strong>dua bulan lalu International Council of Museums (ICOM) mengeluarkan rilis perihal International <em>Museum Day </em>2009 (IMD 2009) yang jatuh pada 18 Mei dengan tema <em>Museums and Tourism</em>.  Alissandra Cummins,  Presiden dari International Council of Museums (ICOM) bersama Carla Bossi-Comelli, Presiden dari World Federation of Friends of Museums (WFFM/FMAM) mengeluarkan pernyataan terkait hari besar museum itu.  </p>
<p>Intinya, IMD 2009 merupakan satu langkah awal yang mengupayakan pengembangan museum sebagai destinasi baru yang mendorong dunia pariwisata –khususnya saat krisis keuangan seperti sekarang ini. Kedua organisasi itu berharap dengan IMD, <em>ethical tourism</em> (pariwisata yang beretika) dan <em>heritage bonding</em> (perikatan heritage) akan kembali menempatkan komunitas lokal dalam posisi yang setara. “Ini adalah cara baru melihat pariwisata dan museum,” tandas Dirjen ICOM Julien Anfruns.</p>
<p>Perayaan hari museum secara internasional merupakan cara menyatukan hubungan terhadap warisan budaya yang merupakan identitas bersama sebagai manusia dan sebagai komunitas. Tentang apapun yang kita yakini dan bagaimanapun cara kita mengekspresikan itu. &#8220;<em>Museums and Tourism </em>mendorong pekerja professional di bidang museum dan sukarelawan museum bekerja sama dengan pengunjung dan turis untuk melahirkan interaksi dengan komunitas lokal. Supaya heritage bisa dirasakan baik di dalam maupun di luar tembok museum,” papar Cummins.   </p>
<p>Sejak 1977 ICOM menggagas IMD untuk meningkatkan kepedulian terhadap peran museum dalam pembangunan masyarakat. Dua tahun lalu ICOM merayakan hari museum dengan tema <em>Universal Heritag</em>” sedangkan tahun lalu ICOM mengambil tema <em>Social Change and Development</em>. Dalam perayaan tahun ini, museum di berbagai negara menggelar beragam aktivitas seperti workshop, konferensi, seminar, termasuk membuka museum hingga malam hari.  </p>
<p>Museum berakar dari bahasa Yunani <em>mouseion</em>, yaitu kuil untuk sembilan Dewi Muse, anak-anak Dewa Zeus yang tugas utamanya adalah menghibur. Dalam perkembangannya <em>mouseion </em>menjadi tempat kerja ahli pikir zaman Yunani kuno, seperti sebagai tempat sekolah Pythagoras dan Plato. Museum yang tertua sebagai pusat ilmu dan kesenian adalah yang pernah terdapat di Iskandarsyah (Alexandria).</p>
<p>Lama kelamaan gedung museum tersebut yang pada mulanya tempat pengumpulan benda-benda dan alat-alat yang diperlukan bagi penyelidikan ilmu dan kesenian, ada yang  berubah menjadi tempat mengumpulkan benda-benda yang dianggap aneh. Perkembangan ini meningkat pada abad pertengahan di mana yang disebut museum adalah tempat benda-benda pribadi milik pangeran, bangsawan, para pencipta seni dan budaya, para pencipta ilmu pengetahuan. Kumpulan koleksi yang ada mencerminkan apa yang khusus menjadi minat dan perhatian pemiliknya.</p>
<p>Benda-benda hasil seni rupa sendiri ditambah dengan benda-benda dari luar Eropa merupakan modal koleksi yang kelak akan menjadi dasar pertumbuhan museum-museum besar di Eropa. Museum ini jarang dibuka untuk umum karena koleksinya menjadi ajang prestise dari pemiliknya dan biasanya hanya diperlihatkan kepada para kerabat atau orang-orang dekat.</p>
<p>Seiring perkembangan pengetahuan di Eropa pada abad 18 maka embrio museum mulai terbentuk.  Di Indonesia, khususnya Jakarta, perkembangan museum terbentuk atas pengaruh perkembangan museum di Belanda. Seperti pernah beberapa kali ditulis <em>Warta Kota</em>, perkembangan museum di Jakarta dimulai dengan berdirinya lembaga <em>Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen</em> (lembaga seni dan ilmu pengetahuan) pada tahun 1778.   </p>
<p>Dalam rangka Hari Museum Internasional, di Indonesia, seperti yang tercatat di Direktorat Museum Departemen Kebudayaan dan Pariwisata ada beberapa kegiatan dalam rangka IMD 2009. Kegiatan itu antara lain seminar di Museum Naskah Proklamasi pada 18 Mei, lomba lukis di Benteng Yogya, pameran bersama di Museum Sejarah Padang pada 26-31 Mei, Festival Kuliner pada 22 Mei di Benteng Yogya.   </p>
<p>Sedangkan di Jakarta, komunitas delapan museum di Kota Tua menyelenggarakan acara sederhana pada 18 Mei mulai pukul 15.00 hingga 18.00 dipusatkan di Taman Fatahillah. Acara itu berupa pameran karikatur dalam rangka pengenalan museum ke warga setempat. Selain itu akan ada adu lambat naik sepeda ontel.</p>
<p>Karena hari Senin adalah hari tutup museum, maka untuk menggantinya, bunker di depan Museum Sejarah Jakarta (MSJ) akan dibuka untuk umum. “Itu sebagai pengganti aja sebab enggak mudah memutuskan buka museum pada hari Senin, terkait retribusi,” kata Kepala UPT MSJ Rafael Nadapdap.</p>
<p>Hal senada diucapkan Kepala UPT Kota Tua Candrian Attahiyat, sambil menambahkan, “Ini adalah acara pertama yang dilakukan dalam rangka Hari Museum Internasional, ke depan mudah-mudahan bisa diadakan secara tetap dan lebih terprogram,” katanya [<a href="http://www.kompas.com/read/xml/2009/05/15/16270190/museum.day.18.mei.bunker.di.msj.dibuka" target="_blank">source</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://situskotatua.com/2009/05/20/museum-day-18-mei-bunker-di-msj-dibuka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
