<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Situs Kota Tua Dot Com &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://situskotatua.com/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://situskotatua.com</link>
	<description>Informasi Seputar Situs Kota Tua Jakarta</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Jun 2010 05:06:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Sejarah Kota Tua</title>
		<link>http://situskotatua.com/2010/06/01/sejarah-kota-tua/</link>
		<comments>http://situskotatua.com/2010/06/01/sejarah-kota-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 04:58:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[situs kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[wisata kota tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://situskotatua.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Kota Tua Pelabuhan Sunda Kelapa diserang oleh tentara Demak pada 1526, yang dipimpin oleh Fatahillah, dan setelah berhasil direbut, namanyapun diganti menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527, kota tersebut luasnya tidak lebih dari 15 hektar dengan pola tata kota tradisional Indonesia. Kota Jayakarta hancur diserang VOC Belanda pada tahun 1619 yang dipimpin oleh Jan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><strong>Sejarah Kota Tua</strong></div>
<div>Pelabuhan Sunda Kelapa diserang oleh tentara Demak pada 1526, yang dipimpin oleh <strong>Fatahillah</strong>, dan setelah berhasil direbut, namanyapun diganti menjadi <strong>Jayakarta</strong> pada 22 Juni 1527, kota tersebut luasnya tidak lebih dari 15 hektar dengan pola tata kota tradisional Indonesia. Kota Jayakarta hancur diserang VOC Belanda pada tahun 1619 yang dipimpin oleh <strong>Jan Pieterzoon Coen</strong>.</div>
<div>Pada tahun 1620 diatas reruntuhan kota Jayakarta, Belanda membangun kota baru yang diberi nama <strong>Batavia</strong><strong>Batavieren</strong> suku bangsa Eropa yang menjadi nenek moyang orang-orang Belanda, disebelah timur sungai Ciliwung yang pusat kotanya kini masih terlihat disekitar Taman Fatahillah sekarang. sebagai penghormatan atas kaum.</div>
<div> </div>
<div>Orang-orang pribumi Batavia dijuluki <strong>Batavianen </strong>(orang Batavia) yang kemudian dikenal sebagai orang Betawi. Orang Betawi sebenarnya adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Kota Batavia pada tahun 1635 diperluas ke sebelah barat sungai Ciliwung diatas bekas kota Jayakarta yang hancur. Kota ini dirancang lengkap dengan sistem pertahannya berupa tembok dan parit sekeliling kota. Tata ruang kota dibagi kedalam blok-blok yang dipisahkan oleh kanal. Pembangunan kota Batavia selesai pada tahun 1650. Setelah pendudukan Jepang pada tahun 1942, nama Batavia diganti menjadi <strong>&#8220;Jakarta&#8221;.</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div>
<div><strong>Wilayah Kota Tua</strong><br />
Lingkungan yang termasuk wilayah ini meliputi Sunda Kelapa, Pasar Ikan, Luar Batang, Kali Besar, Taman Fatahillah dan Glodok. Luas wilayah Kota Tua Daerah sekitar sekitar 139 hektar. Kawasan ini merupakan awal dari masa depan perkembangan kota Jakarta sejak abad 14. Selama tahun 1527 ini adalah Kota pelabuhan yang direbut oleh Fatahillah dan berganti nama menjadi Jayakarta. Lebih lanjut lagi di tahun 1620 kota ini dikuasai oleh VOC Belanda yang diubah menjadi Batavia. Pada abad ke 18 , kota ini telah berkembang ke sisi selatan sampai ke daerah di taman Fatahillah dan Glodok sekarang. Sebagai kota tua, Jakarta telah meninggalkan warisan dari sejarah masa lalu mengambil bentuk bangunan dengan arsitektur Eropa dan Cina dari abad 17 sampai awal abad ke-20. Kota tua ini telah dipelihara sebagai kawasan restorasi.</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://situskotatua.com/2010/06/01/sejarah-kota-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tempat Yang Bisa Dikunjungi</title>
		<link>http://situskotatua.com/2010/06/01/tempat-yang-bisa-dikunjungi/</link>
		<comments>http://situskotatua.com/2010/06/01/tempat-yang-bisa-dikunjungi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 04:57:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[lokasi kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[situs kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[wisata kota tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://situskotatua.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Tempat-tempat Yang Bisa Dikunjungi   Museum Sejarah Jakarta Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi. Gedung ini dulu adalah Stadhuis atau Balai Kota, yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><strong>Tempat-tempat Yang Bisa Dikunjungi</strong></div>
<div>
<div> </div>
<div><strong>Museum Sejarah Jakarta</strong></div>
<div>Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi.</div>
<div>Gedung ini dulu adalah Stadhuis atau Balai Kota, yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jenderal Johan Van Hoorn. Bangunan balaikota itu serupa dengan Istana Dam di Amsterdam , terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.</div>
<div> </div>
<div>
<div>Pada tanggal 30 Maret 1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.</div>
<div>Arsitektur bangunannya bergaya abad ke-17 bergaya Barok klasik dengan tiga lantai dengan cat kuning tanah, kusen pintu dan jendela dari kayu jati berwarna hijau tua. Bagian atap utama memiliki penunjuk arah mata angin.</div>
<div>Museum ini memiliki luas lebih dari 13.000 meter persegi. Pekarangan dengan susunan konblok, dan sebuah kolam dihiasi beberapa pohon tua.</div>
<div> </div>
<div>Objek-objek yang dapat ditemui di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19, yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Cina, dan Indonesia. Juga ada keramik, gerabah , dan batu prasasti. Koleksi-koleksi ini terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin.</div>
<div> </div>
<div>
<div>Terdapat juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Bahkan kini juga diletakkan patung Dewa Hermes (menurut mitologi Yunani, merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang) yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si jagur yang dianggap mempunyai kekuatan magis. Selain itu, di Museum Fatahillah juga terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulu sempat digunakan pada zaman penjajahan Belanda.</div>
<div> </div>
<div><strong>Museum Bank Indonesia</strong></div>
<div>Gedung Bank Indonesia di daerah Jakarta Kota yang dipilih dan ditetapkan sebagai Gedung Museum Bank Indonesia merupakan sebuah bangunan monumental yang sarat dengan nilai sejarah dan keindahan arsitekturalnya. Sebagai aset kekayaan sejarah bagi kota Jakarta, bangunan ini telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta sebagai bangunan cagar budaya sesuai dengan UU Cagar Budaya No. 5/1992. Oleh sebab itu, merupakan suatu langkah tepat apabila gedung ini dilestarikan dan dijadikan sebuah museum yang dikelola secara profesional, sehingga dapat menampilkan citra Bank Indonesia yang sangat peduli pada sejarah, budaya, dan pendidikan bagi masyarakat, serta berpartisipasi dalam revitalisasi bangunan bersejarah di kawasan Jakarta Kota.</div>
<div> </div>
<div><strong>Gereja Katedral Jakarta<br />
</strong><strong>Gereja Katedral Jakarta</strong> (nama resmi: <strong>Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga</strong>, <em>De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming</em>) adalah sebuah gereja di Jakarta. Gedung gereja ini diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu. Gereja yang sekarang ini dirancang dan dimulai oleh PastorAntonius Dijkmans dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Provicaris Carolus Wenneker. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit ketika Dijkmans tidak bisa melanjutkannya, dan kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta. Katedral yang kita kenal sekarang sesungguhnya bukanlah gedung gereja yang asli di tempat itu, karena Katedral yang asli diresmikan pada Februari 1810, namun pada 27 Juli 1826 gedung Gereja itu terbakar bersama 180 rumah penduduk di sekitarnya. Lalu pada tanggal 31 Mei 1890 dalam cuaca yang cerah, Gereja itu pun sempat roboh.</div>
<div><strong> </strong></div>
<div><strong>Masjid Angke</strong></div>
<div>Masjid Angke Masjid Angke terletak di Jakarta Barat dan mudah dicapai oleh minibus dari Museum Fatahillah Kota atau dari stasiun beos kota. Ia adalah satu-satunya masjid di Jakarta yang masih bertahan. Bangunan masjid ini ada dua lantai, yang bercirikan khas arsitektur Jawa. Mesjid Angke yang sekarang terkenal dengan nama Masjid Al-Anwar sangat erat kaitannya dengan orang-orang Cina yang ada di Batavia (sekarang Jakarta).</div>
<div><strong> </strong></div>
<div><strong>Masjid Luar Batang</strong></div>
<div>Masjid Luar Batang Lokasinya berada di Jalan Luar Batang I, Kampung Luar Batang, Jakarta Utara. Banyak orang Jawa yang tinggal disini, makanya dalam peta yang dibuat Van Der Parra tahun 1780 lokasi disebut Javasche Kwartier, namun setelah itu orang lebih mengenalnya Luar Batang. Usut punya usut, orang pada saat itu jika ke lokasi ini berarti ke luar kota dan harus melewati tanda batas dalam bentuk batang, tidak dijelaskan batang apa. Maka kemudian dikenalkan dengan sebutan Luar Batang hingga kini.</div>
<div><strong> </strong></div>
<div><strong>Gereja Sion</strong></div>
<div>
<div>Gereja ini terletak tak jauh dari Stasiun Kereta Api Jakarta, tepatnya di Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Barat dibangun tahun 1693. Gereja Portugis ini dibangun pada tahun 1693, disebut De Nieuwe Potugeesche Buitenkerk (The New Gereja Portugis di luar benteng). Gereja ini resmi dibuka pada tanggal 23 Oktober 1695 dan didanai secara bersama oleh Portugis dan Pemerintah Belanda VOC. Gereja ini yang kemudian dikenal sebagai Gereja Sion, Khotbah pertama disampaikan oleh seorang imam bernama Theodorus Zas dan dihadiri oleh Gubernur Jenderal Van Outhoorn. Gereja Sion adalah yang khas Portugis dengan kubah jendela, dan grand mimbar, kursi yang megah. Yang diukir indah lembar mebel adorn gereja yang dibuat oleh pengrajin dari Formosa (Taiwan).</div>
<div> </div>
<div>Gereja ini merupakan salah satu gereja yang tertua di daerah jakarta. Gereja tertua di Jakarta ini dibangun pada tahun 1693 dengan arsitek Ewout Verhagen. Dari luar, sepintas tak terlihat sesuatu yang istimewa dari Gereja Sion. Namun, jendela lengkung antik dengan tinggi lebih kurang tiga meter dan pintu- pintu gerbang gereja dengan tiang antik, yang menopang segitiga (fronton) gaya Yunani, membuat gereja ini istimewa.</div>
<p>Bentuk bangunan yang segiempat memiliki ruang tambahan yang juga berbentuk segiempat tempat dewan gereja berkumpul (konsistori). Di pintu barat gereja terdapat 11 makam yang nisannya dipasang horizontal.</p>
<p><strong>Toko Merah</strong><br />
Di Jalan Kali Besar Barat Jakarta Barat, di masa VOC merupakan pusat kota Batavia, terdapat sebuah gedung yang hampir seluruh bagian depannya berwarna merah. <strong>Toko Merah</strong> nama gedung itu, kini masih tetap berdiri kokoh meskipun telah berusia tiga abad. Sejumlah gubernur jenderal VOC pernah mendiami gedung ini, yang kala itu terletak di tengah kota Batavia berbenteng.</p>
</div>
<p>Gustaf Baron van Imhoff membangun gedung berlantai dua itu pada 1730. Gedung itu telah menyaksikan berbagai peristiwa penting, yang dialami kota Batavia. Setidak-tidaknya di depan gedung yang mengalir sungai Groote Rivier ( Kali Besar ) itu perna terjadi suatu kerusuhan besar ketika terjadi pembantaian terhadap orang-orang Tionghoa.</p>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://situskotatua.com/2010/06/01/tempat-yang-bisa-dikunjungi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peta Kota Tua</title>
		<link>http://situskotatua.com/2010/06/01/peta-kota-tua/</link>
		<comments>http://situskotatua.com/2010/06/01/peta-kota-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 04:55:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[peta kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[situs kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[wisata kota tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://situskotatua.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://situskotatua.com/2010/06/01/peta-kota-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jakarta 100 Tahun Lalu</title>
		<link>http://situskotatua.com/2010/01/18/jakarta-100-tahun-lalu/</link>
		<comments>http://situskotatua.com/2010/01/18/jakarta-100-tahun-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 07:44:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[wisata kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[wisata sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://situskotatua.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://situskotatua.com/2010/01/18/jakarta-100-tahun-lalu/"><img align="left" hspace="5" width="150" src="http://ehbuku.googlepages.com/1910-st-tandjong-priok.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="1910-st-tandjong-priok" title="" /></a>Dari Singapura ke Batavia membutuhkan waktu sekitar 40 jam perjalanan. Lautnya relatif tenang, kecuali pada masa perubahan musim; saat itu laut menjadi sangat bergelombang. Setelah meninggalkan Singapura, kapal uap berlayar menyusuri kepulauan Rhio, pantainya sangat indah dengan titik-titik pulau-pulau kecil di sekitarnya. Kapal melampaui ekuator pada malam hari, di hari kedua melewati selat Banka, sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari Singapura ke <em>Batavia</em> membutuhkan waktu sekitar 40 jam perjalanan. Lautnya relatif tenang, kecuali pada masa perubahan musim; saat itu laut menjadi sangat bergelombang.</p>
<p>Setelah meninggalkan Singapura, kapal uap berlayar menyusuri kepulauan  <em>Rhio</em>, pantainya sangat indah dengan titik-titik pulau-pulau kecil di sekitarnya. Kapal melampaui ekuator pada malam hari, di hari kedua melewati selat <em>Banka</em>, sebuah selat di antara pulau Banka dan pulau Sumatra. Kedua pantainya dijejeri pepohonan kelapa. Kapal berada begitu dekat dengan kedua pantai itu sehingga bendera kecil di atas menara di pulau Banka dapat terlihat dengan jelas.</p>
<p>Tapi semua ini tiba-tiba berubah. Sekonyong-konyong hujan turun, dan guyuran airnya yang tajam memukuli papan dek bagai panah-panah perak. Awan tebal mengembang di atas pantai, dan permukaan air yang semula tenang mulai bergerak dengan riak-riaknya. Warnanya yang hijau pirus berubah menjadi abu-abu keperakan. Keseluruhan atmosfirnya menyegarkan, tapi lebih segar lagi ketika semua ini berlalu.</p>
<p>Sebagaimana ia datang, begitu juga perginya. Hujan tiba-tiba saja berhenti. Tak lama kemudian diikuti terbenamnya matahari, dengan warna-warninya yang indah berpantulan di permukaan air dan pulau. Cepatnya perubahan memang merupakan karakteristik senja tropis.</p>
<p>Pulau Banka, bersama pulau <em>Billiton</em> di sisi timurnya, dikenal dengan produksi timahnya. Para penambangnya orang-orang Cina. Populasinya sekitar 115.000, kebanyakan orang Malay asal Sumatra.</p>
<p>Di pagi hari ketiga kapal uap memasuki <em>Tandjong Priok</em>. Sebagai pintu  gerbang <em>“Paradise of the East”</em> ia agak kurang atraktif, tapi para pengunjung cukup puas dengan jaminan bahwa ini adalah ambang pintu yang tidak dipoles, menuju istana kecantikan alami yang amat luas.</p>
<p><strong> Tandjong Priok.</strong> Pelabuhan kota Batavia. Di sini, di atas dermaga, begitu kapal merapat, para wisatawan disambut para pesuruh dari berbagai hotel. Kepada mereka barang-barang diserahkan (30 sen per parcel, biasanya akan dicantumkan dalam tagihan hotel). Juga ada porter resmi, yang akan membawa bagasi ke stasiun kereta api dengan biaya 10 sen per buah.</p>
<p>Pembangunan Tandjong Priok dilakukan antara 1877-1886, terdiri dari Pelabuhan Luar dan Pelabuhan Dalam. Pelabuhan Luar dengan kedalaman 26 kaki dilindungi oleh dua tanggul panjang masing-masing sepanjang 6.000 kaki. Pelabuhan Dalam panjangnya 3.500 kaki dan lebar 565 kaki, dengan dua dermaga, salah satunya memiliki tempat pengisian batubara. Biaya pembangunannya sebesar fl.2.200.000. Kini sedang diupayakan agar segera dilakukan perluasan.</p>
<p><a href="http://ehbuku.googlepages.com/1910-st-tandjong-priok.jpg"><img src="http://ehbuku.googlepages.com/1910-st-tandjong-priok.jpg" border="0" alt="1910-st-tandjong-priok" width="260" height="178" align="left" /></a><strong>Stasiun Kereta Api</strong>. Disebut Stasiun Tandjong Priok, berdampingan dengan kantor pabean. Di halamannya terdapat tempat penukaran uang (tempat menukar uang asing dengan uang yang berlaku di kepulauan) dan kantor pos (memiliki hubungan komunikasi telepon dengan hotel-hotel di <em>Weltevreden</em>). Dengan kereta api jarak ke Batavia sekitar 10 km, atau 16-17 menit, berangkat setiap 30 menit, kecuali hari Minggu dan hari-hari libur, saat itu kereta api tidak bekerja.<span id="more-107"></span></p>
<p>Ada tiga jalur rel kereta yang mengarah ke tiga kawasan kota yang berbeda. Wisatawan dianjurkan untuk memilih kereta yang sesuai dengan tujuan mereka.<br />
Yang ingin ke kawasan perhotelan sebaiknya mengambil kereta <em>SS Line</em> hingga ke <em>Kemajoran</em>, atau <em>NIS Line</em> untuk ke <em>Noordwijk</em> atau <em>Koningsplein</em>, —ini adalah tiga stasiun yang berada di  Weltevreden.<br />
Jika ingin ke Batavia yang asli, naik kereta NIS Line ke Batavia N, atau kereta SS Line ke Batavia Z. Perlu diingat bahwa ada kereta SS Line yang tidak berhenti di Batavia Z, tapi langsung ke Kemajoran.</p>
<p><strong>Tarif kelas 1 dan kelas 2</strong> :<br />
ke Batavia SS dan Batavia NIS  50 sen, 20 sen<br />
ke Weltevreden SS (Kemajoran) 40 sen, 25 sen<br />
ke Weltevreden  NIS (Nordwijk) 50 sen, 30 sen<br />
ke Weltevreden NIS (Koningsplein) 60 sen, 35  sen<br />
bagasi 10 sen per 1/10 m3</p>
<p><strong>Kereta dan otomobil</strong>. <em>dos-a-dos</em> (disingkat menjadi  <em>sado</em>), adalah kereta pribumi di mana penumpang dan kusir duduk saling  membelakangi, 15 sen per 1/4 jam.<br />
Hotel-hotel memiliki kereta eropa dan  otomobil yang akan menunggu di stasiun jika sebelumnya diberitahu melalui  telepon.</p>
<p><strong>Pemandu wisata</strong>. Di semua hotel kelas satu disediakan pemandu wisata yang berbahasa Inggris, fl.2,5 hingga fL.3 per hari di luar makanan dan biaya perjalanan. Tapi wisatawan biasa tidak memerlukan pemandu wisata profesional, karena semua orang Belanda bisa berbicara Inggris, Prancis, dan Jerman; sementara orang pribumi berbahasa <em>Malayu</em>, bahasa yang  konstruksinya sederhana dan mudah dipelajari. Para porter hotel  (<em>mandoer</em> dalam bahasa Malayu), umumnya bisa berbahasa Inggris, bisa  dipercaya untuk membeli tiket, mengurus bagasi, dll.</p>
<p><em>Official Tourist Bureau</em> terletak di Rijswijk 17 (di sudut Utara gang Pool), Weltevreden. Buka tiap hari jam 08:00-12:00 dan 17:00-19:00. Di sini para wisatawan bisa memperoleh informasi cuma-cuma mengenai perjalanan di Java atau wilayah lain di Hindia Belanda (biasanya mereka sudah mempunyai <em>itinerary  plan</em>), dan berbagai pamflet berisikan informasi wisata. Buku-buku panduan  juga dijual di sini.</p>
<p><a href="http://ehbuku.googlepages.com/1900-desindes2.jpg"><img src="http://ehbuku.googlepages.com/1900-desindes2.jpg" border="0" alt="1910-desindes" width="240" height="191" align="left" /></a> <strong>Hotel</strong>. Umumnya berada di  Weltevreden.<br />
Hotel des Indes, 130 kamar di Molenvliet West, fl.7 hingga  fl.15<br />
Hotel der Nederlanden, 135 kamar fl.7-12, Grand Hotel de Java, Hotel de  France, ketiganya di Rijswijk.<br />
Central Hotel, di seberang Hotel des Indes di  Molenvliet East<br />
Hotel Tramzicht di Molenvliet East<br />
Hotel-hotel ini umumnya satu lantai, dengan kamar-kamar yang dikelilingi beranda besar, dilengkapi meja kursi dan pot-pot tumbuhan. Bangunannya dikelilingi taman-taman yang ditanami pohon asam, beringin dan pohon-pohon lain yang juga tinggi dan mewah. Dalam satu kalimat, hotel-hotel kelas satu di Java melampaui segala pujian dan dilengkapi dengan semua kenyamanan yang bisa diperoleh oleh wisatawan di negeri tropis.</p>
<p><strong>Restoran</strong>. GW Versteegh di Nordwijk memiliki ruang besar untuk pesta, dan bar di Waterlooplein; Stam &amp; Weijins, Rikers, dan Eesrte Bataviasche Bierhalle —ketiganya di Noordwijk; Eerste Nederlandsche Bierbrouwerij di Goenoeng Sari; Breakfast-hall Hotel der Nederlanden di Rijswijk.</p>
<p><strong>Pension</strong> <em>(boarding house).</em> Wisatawan yang berniat tinggal lama di Batavia lebih memilih penginapan ini daripada hotel yang mahal. Beberapa penginapan mensyaratkan minimal tinggal selama sebulan. Tarifnya bermacam-macam, perlu ditanyakan sebelum melakukan pesanan. Rumah-rumah ini umumnya memiliki satu atau dua pavilyun yang bisa disewa, dan dengan menyewa pembantu (fl.10-15 per bulan), orang bisa memiliki <em>privacy</em> yang lebih  besar dibanding di kamar dalam rumah.</p>
<p><strong>Kota</strong>. Penduduk Batavia pada sensus 1912 berjumlah 162.000 terdiri dari 15.000 orang Eropa, 114.000 pribumi, 30.000 Cina, 1.800 Arab dan 1.200 non-pribumi lainnya.<br />
Kota Batavia terbagi dalam dua distrik: Batavia  dan Weltevreden, dengan kota satelitnya <em>Meester Cornelis</em>.</p>
<p><strong>Batavia</strong> adalah kota lama, didiami oleh orang pribumi, Cina dan Arab. Tampilan umum dan aktivitas di jalan-jalan tidak bisa dibandingkan dengan distrik serupa di kota-kota besar koloni Inggris di Timur. Letaknya di tepi laut, menempati area bekas rawa-rawa, sangat padat penduduknya dan sangat tidak sehat.<br />
Namun di sini adalah pusat bisnis, di sini terdapat bank-bank, perusahaan pelayaran, perusahaan asuransi, dan banyak kantor lain yang dimiliki orang Eropa. Jam kerjanya dari jam 9 hingga jam 16 atau 17.<br />
Di Batavia jalan paling sibuk adalah Kali Besar, di mana terdapat bank dan kantor-kantor perusahaan besar, Pintoe Besar, Pintoe Ketjil, dan Pasar Baroe, di mana berkembang toko-toko Cina.</p>
<p><strong> Weltevreden</strong> adalah kawasan perumahan, di mana tinggal orang Belanda, Inggris, dan orang asing lainnya yang memiliki usaha di kota lama. Jalan-jalannya lebar dan terbuka luas, rumah-rumah terbuka, yang dalam beberapa tahun terakhir sudah dilengkapi dengan instalasi air bersih dan perlengkapan sanitasi lainnya.</p>
<p><a href="http://ehbuku.googlepages.com/1914-laundry.jpg"><img src="http://ehbuku.googlepages.com/1914-laundry.jpg" border="0" alt="1914-laundry" width="240" height="182" align="left" /></a> Wilayah kota di lintasi oleh sungai  <em>Tjiliwoeng</em>, dengan beberapa kanal yang menembus ke berbagai arah kota. Tepi-tepi sungai dilindungi tanggul, dengan tangga di beberapa tempat. Airnya yang berwarna hijau kecoklatan merupakan sumber kegiatan pribumi. Pria, wanita, anak-anak, mandi di situ, mencuci pakaian (kadang juga alat-alat makannya), dan anak-anak bermain dengan gembiranya.</p>
<p>Di pusat Weltevreden ada dua taman —<em>Waterlooplein</em>, dengan monumen  Waterloo, dan <em>Koningsplein</em>.<br />
<em>Noordwijk</em> dan  <em>Rijswijk</em>, dua jalan berdampingan yang terpisah oleh sungai sangatlah menarik, terutama di sore hari, ketika orang-orang berada berkendara di sana.<br />
Selain itu, Molenvliet, Kramat, Tanah Abang, dan Kebon Sirih, merupakan  jalan-jalan terpenting di Weltevreden.</p>
<p>Meski Batavia merupakan ibukota Hindia Belanda, secara komersil ia berada di  urutan ketiga setelah Soerabaja dan Semarang.</p>
<p><a href="http://ehbuku.googlepages.com/1910-concordia2.jpg"><img src="http://ehbuku.googlepages.com/1910-concordia2.jpg" border="0" alt="1910-concordia2" width="260" height="170" align="left" /></a><strong>Club</strong>.<br />
Harmonie Club,  Rijswijk<br />
Concordia Club, Waterlooplein East<br />
Deutsche Turnverein, Gang  Thibault<br />
English Sporting Club, Koningsplein</p>
<p>Harmonie dan Concordia merupakan club terbesar. Harmonie memiliki ruangan yang indah dan perpustakaan yang lumayan. Setiap hari Minggu malam, jam 18-20 ada performansi band. Concordia diutamakan untuk kalangan militer, memiliki taman yang atraktif. Band tampil setiap Rabu mulai jam 18:00 dan Sabtu pagi.</p>
<p><strong>Theatre</strong>.<br />
Theatre Komedi, Schoolweg, di sudut tempat tram berputar. Khusus untuk performansi para prajurit Eropa (Belanda, Inggris, Prancis).<br />
Thalia Theatre, di sudut Molenviliet dan Prinsenlaan, khusus  performansi kaum pribumi.<br />
Wajang Malaju, Molenvliet<br />
Komedi Stambul,  Molenvliet</p>
<p><strong>Tempat-tempat menarik.</strong><br />
<strong>Museum</strong> <em>(Roemah Gadja).</em> Museum dan Perpustakaan <em>Batavia Society of Arts and  Sciences</em>, termasyhur di dunia sains, berada di sisi Barat Koningsplein.  Bangunannya bergaya <em>Grecian</em>. Di depan pintu masuk terdapat patung gajah, hadiah dari raja pertama Siam, sebagai kenangan atas kunjungannya ke Java pada 1871. Di kiri kanan patung gajah terdapat meriam besar, hasil tangkapan dari kesultanan <em>Bandjermasin</em> di Borneo Selatan.</p>
<p>Di dalam, mengelilingi <em>central court</em>, terdapat barang-barang antik Java, karya seni, senjata, perisai, ornamen, kostum, topeng, tekstil, anyaman, alat musik, model-model kapal dan rumah, contoh-contoh kerajinan metal dan semua industri orang Java.</p>
<p><a href="http://ehbuku.googlepages.com/CocodeMer47A.jpg"><img src="http://ehbuku.googlepages.com/CocodeMer47A.jpg" border="0" alt="Coco de Mer 47 A" width="172" height="260" align="left" /></a> Di ruang <em>Treasure</em> terdapat benda-benda emas berupa perisai, helm, mahkota, kotak payung, baki, perlengkapan tembakau dan sirih, badik berhiaskan permata, keris dengan bilah terbaik, dihiasi urat-urat aneh, disamping berbagai kerajinan emas lainnya dari para sultan dan pangeran pribumi.<br />
Di ruang ini juga terdapat <em>coco-de-mer</em> besar (buah kelapa kembar yang legendaris, konon hanya tumbuh di sebuah pulau misterius milik dewa laut), ditopang penyangga dari emas. Juga ada beberapa perhiasan emas dan perak seperti kalung, anting, tusuk konde, cap, piring, dan patung-patung, hasil penggalian di reruntuhan candi-candi di kota-kota Java.</p>
<p>Di ruang lain terdapat barang-barang dari perunggu, perlengkapan prosesi kaum  Buddhist. Di <em>central hall </em>juga terdapat relief dan patung-patung dari reruntuhan  candi Buddhist dan Hindu, yang menampakkan adanya pengaruh Yunani.<br />
Perpustakaannya terdiri dari berbagai publikasi sains dan kesenian dari  seluruh dunia yang diperoleh melalui pertukaran.<br />
Di ruang <em>council </em>juga terdapat kursi-kursi kerajaaan pribumi, lukisan dan suvenir dari para eksplorer dan navigator dunia yang mengunjungi Jawa pada abad 18 dan awal abad 19.</p>
<p>Setiap hari Minggu, Rabu dan Sabtu banyak kaum pribumi yang datang mengunjungi museum. Merupakan kesempatan bagi wisatawan untuk melihat mereka dan anak isterinya dalam kostum-kostum yang menarik.</p>
<p><a href="http://ehbuku.googlepages.com/1288-Batavia-Noord-en-Rijswijk-Welte.jpg"><img src="http://ehbuku.googlepages.com/1288-Batavia-Noord-en-Rijswijk-Welte.jpg" border="0" alt="1288-Batavia-Noord-en-Rijswijk-(Weltevreden)" width="260" height="171" align="left" /></a> <strong>Noordwijk</strong> (Kota Utara), secara  administratif berada di <em>Manggabesar</em>, Batavia, namun popularitasnya membuat orang mengira sebagai bagian wilayah Weltevreden. Noordwijk merupakan bagian yang paling pesat berkembang, paralel dengan Rijswijk yang berada di sisi Selatan. Jalan ini ditanami dengan pohon-pohon asam yang sangat lux dan tinggi besar. Di belakangnya terdapat deretan toko-toko dan kantor orang Eropa, juga beberapa restoran.</p>
<p><a href="http://ehbuku.googlepages.com/rijswijk.jpg"><img src="http://ehbuku.googlepages.com/rijswijk.jpg" border="0" alt="rijswijk" width="260" height="159" align="left" /></a><strong>Rijswijk</strong> (Kota Beras), merupakan jalan paling populer, paralel dengan Noordwijk menyambung dengan jalan Tanah Abang. Di sudut terdapat <em>Harmonie CLub</em>. Sepanjang jalan dipayungi pohon-pohon asam yang indah. Rumah-rumah umumnya dikelilingi taman yang ditanami pohon-pohon rindang. Di tepi kanal terbentang jalur trem uap.<br />
Di  sudut jalan yang berpotongan dengan <em>Gang Pool</em> terletak <em>Official  Tourist Bureau</em>, di sebelah Timurnya berdiri Departemen Keadilan, di  belakang kediaman resmi Gubernur Jenderal. Di jalan ini juga terdapat <em>Hotel der  Nederlander</em>, Departemen Administrasi Kolonial, dan <em>Grand Hotel de Java.</em></p>
<p><a href="http://ehbuku.googlepages.com/1910-weltevreden.jpg"><img src="http://ehbuku.googlepages.com/1910-weltevreden.jpg" border="0" alt="1910-weltevreden" width="189" height="240" align="left" /></a><strong>Koningsplein</strong> (Gambir). Terletak di pusat kota, luasnya sekitar satu km2. Butuh satu jam untuk jalan berkeliling. Bagi para pendatang baru ia merupakan ruang terbuka berbentuk trapesium yang sangat tidak atraktif, hanya ada beberapa pohon dan sedikit rerumputan. Bagi orang Batavia, ketelanjangan ini justru merupakan daya tarik. <em>“Angin segar bertiup tanpa halangan, dan ketidak hadiran tumbuhan menjamin  keringnya udara.”</em> Di sini pada sore hari berkumpul para orang kaya dan orang-orang paling bergaya di Weltevreden, di atas kuda atau di dalam kereta kuda.</p>
<p>Koningsplein dikelilingi oleh deretan <em>residence</em> dan gedung  pemerintahan. Di Utara terdapat <em>Dutch Sporting Club</em> dan residence resmi  Gubernur Jenderal (tempat tinggalnya jika berkunjung sebulan sekali. Sehari-hari  ia tingal di <em>Buitenzorg</em>).</p>
<p>Di Barat ada Museum dan Konsulat Jerman dan  Rusia.<br />
Di Selatan, <em>Royal Natural History Society</em>, dan di sebelahnya  kediaman Resident Batavia. Di antara Koningsplein Selatan dan Utara berdiri  gedung<em> Intercommunal Telephone Co</em>, di belakangnya <em>English Sporting  Club</em>. Di Timur ada sekolah tinggi khusus wanita (dibuka sejak 1882) dan  gereja Protestan <em>Willemskerk</em>. Di seberangnya adalah <em>Stasiun  Koningsplein</em>, di belakang stasiun terdapat arena balap  <em>Batavia-Buitenzorg Race Club</em>, di mana balapan diselenggarakan dua kali setahun.</p>
<p><strong>Hertogspark</strong>. Sebuah taman indah terletak diantyara Koningsplein Timur dan perumahan pejabat milter. Kediaman resmi Commander-in-Chief berada di dalam taman ini.</p>
<p><a href="http://ehbuku.googlepages.com/1910-monumen.jpg"><img src="http://ehbuku.googlepages.com/1910-monumen.jpg" border="0" alt="1910-monumen" width="260" height="171" align="left" /></a><strong>Waterlooplein</strong>. Lapangan  seluas 350 m2, terhubung dengan Koningsplein melalui jalan Willemslaan. Di  tengahnya berdiri tegak kolom <em>“Lion of Waterloo”,</em> didirikan pada 1825  oleh <em>Komisaris Jenderal Du Bus de Gisignies</em>, untuk memperingati Perang  Waterloo.</p>
<p>Di sisi timurnya berdiri megah istana yang dibangun oleh <em>Gubernur Jenderal  Daendels</em> yang tak pernah digunakan sebagai istana. sekarang digunakan oleh beberapa kantor Pemerintahan. Memasuki pintu gerbang utara istana, menaiki tangga di sisi kanan, akan tiba di <em>hall</em> besar tempat pertemuan  para <em>council</em> Hindia Belanda. Koleksi lukisan ukuran <em>life-size</em> para gubernur jenderal di<em>display</em> di sini.</p>
<p>Di depan istana berdiri patung perunggu <em>Gubernur JP Coen</em>, didirikan dalam  rangka peringatan 250 tahun berdirinya Batavia. <em>Concordia Club</em> yang  dikelilingi taman luas berada di sisi selatan istana.</p>
<p>Perumahan pejabat berada di selatan lapangan, di sisi baratnya jalan  <em>Willemsplaan</em> yang dipayungi pohon-pohon tinggi besar. Di ujung jalan  berdiri monumen <em>General Michiel</em> yang tewas pada 1849 dalam ekspedisi di Bali.</p>
<p>Gereja Katolik Roma berada di sisi utara lapangan, mudah dikenali dengan dua menaranya yang merupakan konstruksi terbuka. Eksterior dan interiornya tidak menampilkan karakteristik yang biasa terdapat di gereja katolik di Eropa.</p>
<p>Pertandingan sepakbola dan pegelaran musik band sering diselenggarakan di  lapangan Waterlooplein ini.</p>
<p><a href="http://ehbuku.googlepages.com/Wilhelmina-Park-Oude-Fort.jpg"><img src="http://ehbuku.googlepages.com/Wilhelmina-Park-Oude-Fort.jpg" border="0" alt="Wilhelmina-Park-(Oude-Fort)" width="260" height="172" align="left" /></a> <strong>Wilhelmina Park</strong>. Di akhir jalan Willemslaan terdapat taman kecil yang sangat indah, dinamakan sama dengan nama ratu Belanda kini. Taman ini berada di antara dua cabang sungai Tjiliwoeng dan terbebaskan dari kebisingan kota. Di tengah-tengahnya adalah benteng <em>Prins  Hendrik</em>, yang diputus dari Batavia pada masa Daendels dan kini digunakan sebagai gudang senjata. Hanya pedestrian yang diizinkan melalui taman ini. Sumber: <a href="http://bataviase.wordpress.com" target="_blank">Bataviase</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://situskotatua.com/2010/01/18/jakarta-100-tahun-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Museum Bank Mandiri (ex-NHM Building)</title>
		<link>http://situskotatua.com/2009/06/08/museum-bank-mandiri-ex-nhm-building/</link>
		<comments>http://situskotatua.com/2009/06/08/museum-bank-mandiri-ex-nhm-building/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 03:13:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mkurniawan2001</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://situskotatua.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorji Batavia adalah Badan operasi sistem tanam paksa yang merupakan reinkarnasi VOC yang telah bangkrut&#8221; (Alwi Shahab: Saudagar Baghdad dari Betawi, hal. 135) Dinasionalisasi pada tahun 1960 menjadi salah satu gedung kantor Bank Koperasi Tani &#38; Nelayan (BKTN) Urusan Ekspor Impor, kemudian bersamaan dengan lahirnya Bank Ekspor Impor Indonesia (BankExim) pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><em>&#8220;Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorji Batavia adalah Badan operasi sistem tanam paksa yang merupakan reinkarnasi VOC yang telah bangkrut</em>&#8221; (Alwi Shahab: Saudagar Baghdad dari Betawi, hal. 135)</p>
<p>Dinasionalisasi pada tahun 1960 menjadi salah satu gedung kantor Bank Koperasi Tani &amp; Nelayan (BKTN) Urusan Ekspor Impor, kemudian bersamaan dengan lahirnya Bank Ekspor Impor Indonesia (BankExim) pada 31-12-1968, gedung tsb pun beralih menjadi Kantor Pusat BankExim, hingga akhirnya legal merger BankExim bersama Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD) dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri (1999), maka gedung tsb pun menjadi asset BCB Bank Mandiri yang sekarang dimanfaatkan sebagai Museum Bank Mandiri.</p>
<p>Museum Bank Mandiri terletak di Jl. Lapangan Stasiun No. 1 Jakarta-Kota, Bangunannya menempati area seluas 10.039 m2, Bangunan Nederlandsche Handel</p>
<p>Maatschappij (NHM) dirancang arsitek belanda yaitu J.J.J de Bruyn dan A.P. Smits dan C. van de Linde, Gedung ini mulai dibangun tahun 1929 tanggal 14 Januari 1933 Oleh C.J Karel Van Aalst, Presiden NHM ke-10. Gedung ex-NHM ini tampak kokoh dan megah dengan arsitektur Niew Zakelijk atau Art Deco Klasik, Museum Bank Mandiri menyimpan banyak koleksi berbagai macam jenis blanko dan barang-barang yang ada kaitannya dengan Bank tempo doeloe.(MK)<a href="http://travelogue.multiply.com/journal/item/4/Museum_Bank_Mandiri_ex-NHM_Building"> Sumber</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://situskotatua.com/2009/06/08/museum-bank-mandiri-ex-nhm-building/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Museum Day, Momentum Kebangkitan Museum</title>
		<link>http://situskotatua.com/2009/05/20/museum-day-momentum-kebangkitan-museum/</link>
		<comments>http://situskotatua.com/2009/05/20/museum-day-momentum-kebangkitan-museum/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 May 2009 20:45:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[museum day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://situskotatua.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[MOMENTUM Hari Museum Internasional kemarin merupakan momentum kebangkitan kembali museum-museum di kawasan kota tua. Pendekatan museum agar lebih dekat dengan warga sekitar tampaknya cukup berhasil. Bukan hanya dilihat dari partisipasi warga tapi juga dari pengetahuan warga tentang isi museum. Setidaknya khalayak yang berkumpul di Taman Fatahillah jadi tahu bahwa meriam si Jagur semula berada di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>MOMENTUM </strong>Hari Museum Internasional kemarin merupakan momentum kebangkitan kembali museum-museum di kawasan kota tua. Pendekatan museum agar lebih dekat dengan warga sekitar tampaknya cukup berhasil. Bukan hanya dilihat dari partisipasi warga tapi juga dari pengetahuan warga tentang isi museum. Setidaknya khalayak yang berkumpul di Taman Fatahillah jadi tahu bahwa meriam si Jagur semula berada di halaman taman di sekitar lokasi di mana kini ada bekas galian trem.</p>
<p>Melalui kuis yang dibikin oleh panitia &#8220;Museum Day&#8221;, warga juga jadi paham apa nama tempat yang digunakan untuk menyimpan uang yang letaknya di bawah gedung Museum Bank Mandiri. Namanya, brandkast atau kemudian menjadi brankas.</p>
<p>Meskipun diadakan dengan sangat sederhana, dan buat banyak orang terasa kurang greget, bagaimanapun menjadi peringatan hari museum yang paling mengesankan. Dengan semangat dan kekompakan dari Forum Komunikasi Antar Museum di Kota Tua (Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, Museum Bahari, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Balai Konservasi, dan UPT Kota Tua) dibantu oleh ACP Com yang sudah berpengalaman membantu museum dan kota tua, acara yang dipersiapkan dalam waktu singkat pun menjadi begitu hidup sekaligus menghidupkan kawasan itu yang di hari Senin lebih sepi dibandingkan hari-hari lain.</p>
<p>Jika pada setiap hari Senin museum tutup, maka kemarin museum buka hingga malam hari dan tanpa dipungut bayaran. Pin-pin bertuliskan Museum Day pun dibagikan kepada khalayak. Kepala Dinas Pariwisata dan Permuseuman DKI Arie Budhiman menyatakan, rasa terima kasih atas inisiatif forum komunitas yang menggelar acara tersebut meski dalam keterbatasan.<br />
 <br />
&#8220;Saya sangat meng-appreciate teman-teman di forum komunikasi yang sudah menggelar peringatan Hari Museum untuk pertama kali. Ke depan tentu akan kami bikin yang lebih terprogram, kami bikin lebih panjang dan puncak acara pada 18 Mei. Kami bikin pekan museum dan kerja sama dengan berbagai pihak,&#8221; paparnya. Arie juga menegaskan, bunker akan dibuka untuk umum setiap hari Senin. Ini sebagai pengganti museum yang tutup di hari itu.</p>
<p>Mantan Kepala Biro Humas dan Protokol DKI itu tak lupa mengingatkan, keberadaan bunker di depan Museum Sejarah Jakarta (MSJ) merupakan bagian dari atraksi museum dan atraksi wisata di kota tua. &#8220;Apalagi kalau melihat keingintahuan masyarakat yang begitu besar terhadap sejarah bunker. Juga untuk menjawab keingintahuan mereka terhadap bunker ini,&#8221; tandasnya.</p>
<p>Hari Museum tahun ini seperti menjadi titik awal pembenahan museum dalam rangka mempersiapkan Tahun Kunjungan Museum 2010. Secara perlahan namun pasti museum secara keseluruhan akan dibenahi. Sebut saja dari sisi pelayanan, informasi, manajemen museum, dan tata pamer. Karena apa, karena dalam rangka menghidupkan kawasan kota tua dan menjadikannya sebagai tujuan wisata maka tak pelak kondisi museum harus ikut direvitalisasi.</p>
<p>Selain itu jaminan atas keamanan, kebersihan, kenyamanan, ketertiban juga mutlak disegerakan. Mengutip Arie, harus ada komitmen kolektif demi tercapainya jaminan tersebut. Artinya, Pemprov DKI tak bisa sendirian mengupayakan hal itu, &#8220;Stakeholder, pihak swasta dan juga pemerintah pusat tak bisa hanya diam. Perlu ada dukungan dari mereka,&#8221; tambah Arie.</p>
<p>Camat Tamansari, Rustam Effendi, menimpali, persoalan di kota tua bukan hanya di museum tapi juga di sekitar museum yaitu gedung-gedung tua yang tak terawat. &#8220;Kalau bangunan di sekitar museum malah dibiarkan dalam kondisi menyeramkan, buat shooting film horor, kan susah juga. Artinya harus ada kemauan dari si pemilik bangunan untuk merawat gedung mereka,&#8221; lanjutnya, supaya terlihat lebih bersih dan nyaman, juga aman karena pemulung yang dibiarkan tinggal di bangunan kumuh itu juga akan hilang.</p>
<p>Semoga saja dengan momentum Hari Museum Internasional di mana forum komunikasi disebut Arie Budhiman sebagai &#8220;inisiator&#8221; Hari Museum di Jakarta membawa angin segar bagi pembenahan museum dan kota tua secara umum. Harapan lain tentunya adalah agar stakeholder, swasta, dan pemerintah pusat tak menutup mata dan telinga tentang keberadaan kawasan berpotensi ini. [<a href="http://www.kompas.com/read/xml/2009/05/19/14522214/Menghidupkan.Museum.Lewat.Museum.Day" target="_blank">source</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://situskotatua.com/2009/05/20/museum-day-momentum-kebangkitan-museum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Event] Jakarta Night Trail</title>
		<link>http://situskotatua.com/2009/04/23/event-jakarta-night-trail/</link>
		<comments>http://situskotatua.com/2009/04/23/event-jakarta-night-trail/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2009 06:34:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta night trail]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas historia]]></category>
		<category><![CDATA[kota tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://situskotatua.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional dan Hari Buku se-Dunia, Komunitas Historia Indonesia (KHI), Jakarta Heritage Community (JHC) dan Indonesian Federation of Friends of Museums (IFFM), didukung oleh Forum Indonesia Membaca (FIM) dan Museum Bank Mandiri (MBM), mempersembahkan: Jakarta Night Trail Sabtu, 9 Mei 2009. Pkl. 15.00-21.00 wib Tempat Kumpul: Museum Bank Mandiri, Jl. Lapangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional dan Hari Buku se-Dunia, Komunitas Historia Indonesia (KHI), Jakarta Heritage Community (JHC) dan Indonesian Federation of Friends of Museums (IFFM), didukung oleh Forum Indonesia Membaca (FIM) dan Museum Bank Mandiri (MBM), mempersembahkan:</p>
<p>Jakarta Night Trail<br />
Sabtu, 9 Mei 2009. Pkl. 15.00-21.00 wib</p>
<p>Tempat Kumpul: Museum Bank Mandiri, Jl. Lapangan Stasiun No.1 Jakarta Barat.</p>
<p>Depan stasiun KA Jakarta Kota / BeOS; Depan Halte Bus Transjakarta Kota.</p>
<p>Nara Sumber: Asep Kambali,KHI (Guru Sejarah / Pendiri KHI)</p>
<p>Bagian sejarah tertua dari Jakarta dikenal dengan sebutan Kota (Sansekerta) yang berarti “tempat yang dibentengi,” merupakan bandar termegah di Asia Tenggara, yakni Sunda Kalapa yang sejak abad ke-14 dikenal sebagai pintu gerbang menuju Kerajaan Pajajaran. Setelah pasukan Fatahillah menyerang dan merebut Sunda Kalapa (1527) dari tangan Pajajaran, Sunda Kalapa diganti namanya menjadi “Jayakarta” yang berarti “kemenangan sempurna.” Pangeran Jayakarta terusir hingga ke Jatinegara setelah Kota dihancurkan oleh tentara VOC pimpinan Jan Pieterszoon Coen dan Batavia mulai bangkit (1619) sebagai nama baru dari kota itu. Dengan nama ini, kota Batavia dikenal selama hampir tiga setengah abad dan berakhir ketika Jepang menduduki Hindia Belanda dan nama Jakarta diabadikan Jepang sampai sekarang.</p>
<p>Kegiatan: Field Trip Sejarah Jakarta; Tour de Museum; Nonton Film Tempo Doeloe; Makan Malam “Nasi Ulam” khas Betawi; Foto street hunting dengan objek Kota Tua Jakarta.</p>
<p>HTM:<br />
Perorangan : Rp. 75.000 / orang;</p>
<p>Acara terbuka untuk umum.Terbatas, setelah baca segera daftar!</p>
<p>Fasilitas: Air Mineral; Pin unik; Mentoring; Makan Siang; Handout; Tiket masuk.</p>
<p>Route: Museum Bank Mandiri; Museum Bank Indonesia; Jl. Pintu Besar Utara; Taman Fatahillah, Jl. Cengkeh; Jl. Tongkol; Kasteel Batavia; Pelabuhan Sunda Kalapa; Culemborg; Menara Syahbandar; Gudang Rempah-Rempah VOC; Galangan Kapal VOC; Jembatan Kota Intan; Gd. Samudera Indonesia; Gd. Cipta Niaga; Gd. Kota Bawah; Jl. Kali Besar Timur; Chartered Bank; Toko Merah; kembali ke Museum Bank Mandiri.</p>
<p>CATATAN &amp; TIPS</p>
<p>Acara 100% walking tour; Untuk itu dipersilahkan membawa minuman ringan dan obat-obatan pribadi secukupnya; Disarankan memakai pakaian casual, sandal gunung /sepatu kets; Sebagai tambahan bawa juga kamera/ handycam/ recorder/ handuk kecil/ topi lebar/ sun glass, dll.; Karena kegiatan dilakukan di dalam gedung tua bersejarah, maka perlu berhati-hati dalam beraktivitas, tidak pisah dengan rombongan, dan tidak berkata-kata yang sombong; Semua peserta dilarang mengambil, memindahkan, merusak, mencorat-coret barang-barang/ benda-benda bersejarah /koleksi yang ada di dalam museum. O ya, tidak boleh mengambil foto di museum, tapi kalo motret boleh kok! <img src='http://situskotatua.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>CARA PENDAFTARAN &amp; PEMBAYARAN:</p>
<p>1. Pendafataran:<br />
Silahkan menghubungi telepon: 0856.9535.5713 (Maya, Ms). Anda akan mendapatkan no.pendaftaran sebagai peserta.</p>
<p>2. Pembayaran:<br />
Silahkan transfer Acc. 697.0109.160 BCA Cab. Kartini Jakpus An. Asep Kambali dengan cara, Contoh: Ade mendapatkan nomor urut pendaftaran 16. Maka Ade pada saat melakukan transfer mengetik 75.016.</p>
<p>For more details please visit <a href="http://komunitashistoria.blogspot.com/">http://komunitashistoria.blogspot.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://situskotatua.com/2009/04/23/event-jakarta-night-trail/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Event] Jalan-jalan Kota Tua siang dan malam</title>
		<link>http://situskotatua.com/2009/04/23/event-jalan-jalan-kota-tua-siang-dan-malam/</link>
		<comments>http://situskotatua.com/2009/04/23/event-jalan-jalan-kota-tua-siang-dan-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2009 06:23:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[jelajah budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kota tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://situskotatua.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Perahu-perahu dagang dengan layar terkembang, melintas gagah di depan Toko Merah yang megah, membelah aliran de Groote Rivier yang bening tenang. Jembatan kota Intan membuka lebar daun-daun jembatannya, membiarkan perahu keluar masuk Bandar. Di tepian dermaga sana, satu persatu kapal dagang dan perahu, lego jangkar melipat layar. Pintu-pintu loji dan gudang VOC telah terbuka lebar. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perahu-perahu dagang dengan layar terkembang, melintas gagah di depan Toko Merah yang megah, membelah aliran de Groote Rivier yang bening tenang. Jembatan kota Intan membuka lebar daun-daun jembatannya, membiarkan perahu keluar masuk Bandar. Di tepian dermaga sana, satu persatu kapal dagang dan perahu, lego jangkar melipat layar. Pintu-pintu loji dan gudang VOC telah terbuka lebar. Rempah-rempah negeri tropis, siap dimuat ke kapal dagang kompeni untuk diangkut ke negerinya Nederland. Kuli-kuli bongkar muat pelabuhan, mulai bermandi keringat mengais rejeki, di sela riuh renda teriakan juragan, bentakan mandor serta bacotan jawara dan jagoan Bandar. Pasar-pasar Batavia terus sibuk menggelar dagangan. </p>
<p>Penduduk Kota Batavia pada keluar rumah. Ke kantor, ke pasar, atau sekedar pesiar keliling kota, sembari pamer status dan kekayaan. Nyonya-nyonya besar Kompeni  serta nyai-nyai Belanda, bergaun serba mewah dengan rok bertingkat-tingkat kayak kurungan ayam, keluar mencari angin di sepanjang kanal dan terusan batavia. Para budak dan bedienda berjalan mengiringi sang nyai dan nyonya besar Kompeni, memayungi wajahnya dari sengatan terik mentari. Budak perempuan terus mengipas-mengipas cari angin buat sang nyai yang terus mengunyah sirih pinang, memerahi sekujur mulut dan bibirnmya. Dan dibawah keteduhan pepohonan kenari dan palem yang berjejer rapih di sepanjang tepian kanal dan terusan, penduduk Batavia lalu lalang di tengah seribu satu kesibukan.</p>
<p>Saat senja menjelang, rumah-rumah pemandian di sepanjang tepian dinding kanal dan terusan, dipenuhi wanita telanjang dada berendam diri, zonder kuatir akan buaya pemangsa, pria iseng yang doyan ngintip serta air kali yang mulai perlahan sepi. Satu persatu perahu dagang mulai lego jangkar di tepian dermaga. Para pedagang sibuk berkemas diri meninggalkan pasar. Encek dan baba Cina telah kemabli ke rumah, sibuk hitung untung rugi dagangannya hari itu.</p>
<p>Daun-daun Jembatan Kota Intan perlahan ditutup, mengakhiri kesibukan siang di belahan Kali Besar. Kanal dan terusan ikut siap menjemput malam. Dari tepian Groote Rivier, Toko Merah mulai memamerkan kemegahannya di senja teduh, mematut diri berkaca ke air Ciliwung yang kian hening sepi. Derap sepatu serdadu Kompeni berderak keras dari atas bastion-bastion kota, siap menjaga Kota Batavia yang sebentar lagi menuju ke peraduan malamnya. Moncong-moncong meriam di bastion kota, menganga lebar siap memuntahkan isinya kea rah penganggu kota yang hendak berangkat tidur. Lampu-lampu kandelier mulai berkelip menerangi Batavia, dan di ujung bandar  Batavia sana, sorot lampu suar mulai menyala, memandu perahu dan kapal dagang. Tapi Batavia belum mau tidur.</p>
<p>Di beranda depan, di bawah rerimbunan pepohonan kenari yang berjejer rapi menghiasi kawasan elit Tijgersgracht, tuan besar Kompeni rebahan santai di atas kursi malasnya, sembari menghisap pipa. Segelas anggur Rijn di sampingnya, selalu penuh siap ditenggak. Sang nyai tergolek malas di bale-bale, dengan kepala beralaskan setumpuk bantal empuk bersulam indah. Ia terus mengunyah sirih pinang. Sebentar-sebentar ia meludah ke tempolong ludah di sampingnya. Para budak, jongos, dan bediendanya siap melayani segala perintah sang nyai. Sembari terus dilayani para kacungnya, tuan dan nyonya besar Kompeni ikut menghantar Batavia ke peraduan malamnya, menikmati kerlap kerlip sinar lampu kandelier, yang memantul di permukaan air kanal.</p>
<p>Mereka sibuk menikmati asyiknya pasangan sinyo-noni, yang tengah memadu kasih memilin janji dari atas gondola dan arumbai Batavia yang melintasi kanal, diiringi lantunan alunan musik “Kota Bavia yang Berdandan”. Tuan dan nyonya besar  Kompeni ikut larut dalam nostalgia. Melambungkan lamunan jauh ke alam sinyo dan noninya doeloe. Jauh ke Venesia sana yang penuh gondola berseliweran di air-air kanal. “Inilah Venesia Negeri Tropis…Batavia,”guman tuan besar Kompeni. Pesta riah dansa-dansi di gedung pertemuan di bilangan Tijgersgracht, usai sudah. Pasangan petinggi VOC dan tuan nyonya Kompeni bergandengan tangan meninggalkan ruangan pesta. Dan Batavia, Sang Ratu dari Timur, lantas lelap terlena dalam mimpi indahnya. ( Thomas B.Ataladjar, 2003)</p>
<p>Nostalgia di Kota Toea<br />
Sabtu, 2 Mei 2009<br />
Pukul : 17.00 – 21.30 WIB<br />
Route : Kawasan Kali Besar, Taman Fatahilah, Bank Tua di Batavia<br />
Biaya Partisipasi : Rp. 60.000,- (Enam Puluh Ribu Rupiah)<br />
Fasilitas : Makan Malam di Museum Mandiri, Tour Guide, Nonton Film Jadoel, Id Card dan lain-lain</p>
<p>Keliling Kota Toea dengan Sepeda Onthel<br />
Minggu, 17 Mei 2009<br />
Pukul : 07.30 – 12.00 WIB<br />
Route : Stasiun Barang, Kampung Bandan,Pelabuhan Sunda Kelapa<br />
Biaya Partisipasi : Rp. 75.000,- (Tujuh Puluh Lima Ribu Rupiah)<br />
Fasilitas : Snack, Lunch, Tour Guide, Id card, Sinopsis dan Peserta di bonceng Sepeda Onthel</p>
<p>KOMUNITAS  JELAJAH BUDAYA<br />
Jl. Lapangan Stasiun No. 1 Jakarta-Kota<br />
Telp : 0817 9940 173 / 021 99 700 131<br />
Email : kartum_boy@yahoo. com<br />
www.jelajahbudaya. blogspot. com<br />
jelajahkotatua@ yahoogroups. com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://situskotatua.com/2009/04/23/event-jalan-jalan-kota-tua-siang-dan-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NgeJazz, Jalan-jalan, dan Menginap di Kota Tua</title>
		<link>http://situskotatua.com/2009/04/04/ngejazz-jalan-jalan-dan-menginap-di-kota-tua/</link>
		<comments>http://situskotatua.com/2009/04/04/ngejazz-jalan-jalan-dan-menginap-di-kota-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2009 19:06:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[kota tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://situskotatua.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://situskotatua.com/2009/04/04/ngejazz-jalan-jalan-dan-menginap-di-kota-tua/"><img align="left" hspace="5" width="150" src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/02/09/1005323p.jpg" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="" /></a>Ada ajakan yang unik dan menarik bagi mereka yang ingin menikmati Kota Tua di malam bahkan dini hari. Menjelajahi  sudut remang-remang hingga sudut  tergelap sekalipun. Tak sekadar mendengar penjelasan tentang sejarah sebuah gedung atau peristiwa yang terjadi di seputaran area tersebut tapi juga merasakan, membaui kondisi lembab gedung-gedung tua yang minim perawatan. Adalah Komunitas Historia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="border: 0px;" src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/02/09/1005323p.jpg" border="0" alt="" width="298" />Ada ajakan yang unik dan menarik bagi mereka yang ingin menikmati Kota Tua di malam bahkan dini hari. Menjelajahi  sudut remang-remang hingga sudut  tergelap sekalipun. Tak sekadar mendengar penjelasan tentang sejarah sebuah gedung atau peristiwa yang terjadi di seputaran area tersebut tapi juga merasakan, membaui kondisi lembab gedung-gedung tua yang minim perawatan.</p>
<p>Adalah Komunitas Historia yang pada 28 Februari mendatang mengajak peminat sejarah berkeliling Kota Tua bahkan menginap di Museum Bank Mandiri.  Ketua Komunitas Historia Asep Kambali mengatakan, &#8220;Program ini sebetulnya program Jakarta Night Trails tapi kemudian ada ide menginap di museum. Dibikin beda.&#8221; Ide beda itu datang dari Bondet Proborini, yang juga punggawa komunitas ini.</p>
<p>&#8220;Kalau jalan-jalan malam hari di museum atau di Kota Tua kan udah biasa. Kita cari yang agak enggak biasa,&#8221; ujar Bondet, saat dihubungi secara terpisah. Meski demikian, inti jalan-jalan ini tetap memperkenalkan berbagai peninggalan yang menyimpan sejarah. Misalnya, berkeliling Museum Bank Mandiri (MBM) untuk mengenali proses perbankan di awal abad 20.</p>
<p>Dari MBM peserta digiring ke Taman Fatahillah, Kali Besar untuk menelusuri beberapa gedung bersejarah seperti Toko Merah beserta kisah tentang Kali Besar itu sendiri, &#8220;Nanti kita juga masuk ke gedung Cipta Niaga,&#8221; imbuh Asep. Gedung ini masuk dalam gedung milik Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI). Gedung kosong ini seringkali digunakan untuk shooting video klip, foto pra pernikahan, dll.  Acara yang dimulai pukul 21.00 itu akan berakhir sekitar pukul 05.00 keesokan paginya.</p>
<p>Setelah lelah berjalan-jalan, peserta kembali ke MBM untuk mengisi perut sambil menonton film bertema Batavia. Menurut Bondet dan Asep, peserta cukup membayar Rp 65.000 untuk acara ini dan bisa langsung mendaftar ke sekretariat Komunitas Historia di Jalan Danau Limboto 17, Bendungan Hilir, Jakpus. &#8220;Atau bisa juga cek di website kita, www.komunitashistoria.org,&#8221; tandas Asep.</p>
<p>Sebelum mengikuti acara ini, calon peserta bisa menikmati acara lain di Taman Fatahillah, yaitu Java Jazz On the Move. Sebuah acara yang merupakan acara pemanasan perhelatan jazz, Java Jazz, yang akan berlangsung 6-8 Maret. Pada acara yang akan memeriahkan kawasan itu mulai pukul 19.00 hingga pukul 22.00, akan tampil band Ecoutez dan Lala Suwages.</p>
<p>Niken Prabaningrum, Pre Event Coordinator Java Jazz, yang dihubungi Warta Kota, Selasa (24/2), mengatakan, untuk acara di Taman Fatahillah pihaknya juga mengundang sekitar 50-an anggota bike to work. &#8220;Kita juga sediakan parkir untuk sepeda mereka. Akan ada stan makanan, jajanan juga. Kita upayakan ada jajanan yang sesuai dengan kawasan Kota Tua,&#8221; ungkapnya.                                                <br />
Pemanasan Java Jazz sudah tiga kali digelar di kawasan Kota Tua. Dimulai  saat Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI di bawah komando Aurora Tambunan. Tujuannya tak lain sebagai upaya menghidupkan kawasan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://situskotatua.com/2009/04/04/ngejazz-jalan-jalan-dan-menginap-di-kota-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kota Tua untuk Sentra Industri Kreatif</title>
		<link>http://situskotatua.com/2009/04/04/kota-tua-untuk-sentra-industri-kreatif/</link>
		<comments>http://situskotatua.com/2009/04/04/kota-tua-untuk-sentra-industri-kreatif/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2009 19:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[sentra industri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://situskotatua.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://situskotatua.com/2009/04/04/kota-tua-untuk-sentra-industri-kreatif/"><img align="left" hspace="5" width="150" src="http://www.kompas.com/data/photo/2008/02/20/223244p.JPG" class="alignleft wp-post-image tfe" alt="" title="" /></a>Sumber: Kompas JAKARTA, RABU &#8211; Setelah dilakukan renovasi, kawasan Kota Tua termasuk Museum Fatahillah akan dijadikan sebagai pusat wisata kota Jakarta dan sebagai salah satu sentra industri kreatif di Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu melakukan kunjungan ke kawasan kota Tua tersebut, Rabu sore dan menyebut bahwa revitalisasi Kota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="border: 0px;" src="http://www.kompas.com/data/photo/2008/02/20/223244p.JPG" border="0" alt="" width="298" /></p>
<p>Sumber: <a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/02/20/22184277/kota.tua.untuk.sentra.industri.kreatif" target="_blank">Kompas</a></p>
<p><strong>JAKARTA, RABU</strong> &#8211; Setelah dilakukan renovasi, kawasan Kota Tua termasuk Museum Fatahillah akan dijadikan sebagai pusat wisata kota Jakarta dan sebagai salah satu sentra industri kreatif di Jakarta.</p>
<p>Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu melakukan kunjungan ke kawasan kota Tua tersebut, Rabu sore dan menyebut bahwa revitalisasi Kota Tua itu akan juga termasuk pembangunan pusat industri kreatif.</p>
<p>&#8220;Ada berbagai macam ide untuk menarik minat orang berkunjung ke Kota Tua. Salah satunya menggunakan Kota Tua sebagai industri kreatif,&#8221; kata Mendag. Ia menyebut beberapa industri yang bisa dikembangkan antara lain musik, mode, desain, restoran serta galeri.</p>
<p>Mendag membandingkan Kota Tua itu dengan daerah wisata di Singapura dimana bangunan tua masih juga digunakan sebagai gedung perkantoran.</p>
<p>Sementara Gubernur Fauzi Bowo menyatakan siap untuk memfasilitasi kebijakan dari Pemerintah Pusat. &#8220;Kita siap menyesuaikan regulasi demi kemajuan Kota Tua. Apa yang diinginkan Pemerintah akan kita fasilitasi,&#8221; kata Fauzi.</p>
<p>Ia menyebut bahwa pembangunan industri kreatif itu seharusnya sudah &#8220;build in&#8221; dalam rencana revitalisasi Kota Tua, sehingga tidak hanya dilakukan revitalisasi, tapi ditambah dengan aktivitas.</p>
<p>Gubernur dan Mendag sempat mencoba transportasi wisata berupa bus mini kuno yang akan dioperasikan di sekitar daerah Kota Tua untuk para wisatawan yang berkunjung.</p>
<p>Selain meninjau Kota Tua dan pembangunan Terowongan Penyeberangan Orang (TPO) yang menghubungkan antara sisi Museum Bank Mandiri-Halte TransJakarta-Stasiun Kota, Gubernur juga meresmikan Museum Fatahillah yang baru selesai direnovasi. &#8220;Mari kita memanfaatkan momentum ini untuk berbuat lebih baik terhadap peninggalan sejarah,&#8221; kata Fauzi.(Antara)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://situskotatua.com/2009/04/04/kota-tua-untuk-sentra-industri-kreatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
